Tragedi Penjualan Bayi: Potret Kemiskinan Buah Kapitalisme

Kelahiran seorang bayi ke dunia ini sewajarnya selalu disambut dengan rasa haru bercampur gembira bagi sang ibu. Kondisi sang bayi yang lemah dan membutuhkan kasih sayang, tentu membuat sang ibu akan begitu erat mendekap, memberi kehangatan dan tak ingin berpisah dengan makhluk mungil yang baru dilahirkannya. Namun tidak demikian yang terjadi di zaman edan ini! Seorang ibu di Tanjungpinang, Provinsi Kepri, tega menjual bayinya yang baru berumur 10 hari. Bayi berjenis kelamin perempuan tersebut dibandrol Rp7 juta! (inilah.com 12/2/13).

Tragedi penjualan bayi semacam ini ternyata bukan baru terjadi. Di awal bulan ini kita dikejutkan dengan terungkapnya kejahatan penjualan bayi di kawasan Jakarta Barat. Polisi meringkus komplotan penjualan bayi yang dilakukan oleh Sindikat terdiri dari tujuh wanita dengan aneka profesi, dari dukun beranak, mantan bidan, hingga ibu rumah tangga. komplotan itu dipimpin oleh seorang mantan bidan, dan telah beroperasi sejak 1992.

Pelaku mengaku ia bisa menjual bayi 3 kali dalam setahun. Khusus Desember 2012 ia telah menjual 12 bayi ke berbagai kalangan. Pihak kepolisian menyatakan bahwa kelompok yang telah beroperasi sejak 1992 ini telah menjual 60 bayi. Astagfirullah.

Para pelaku memang sengaja mengincar warga kurang mampu yang tidak sanggup membayar biaya persalinan. Tidak menutup kemungkinan ada kerjasama antara para pelaku dan rumah sakit. Orang tua bayi memang tidak mendapatkan keuntungan apapun selain dibayarkan biaya persalinannya. Namun ada juga yang sengaja menjual bayinya kepada pelaku.

Bayi dijual kepada pembeli pertama dengan harga Rp10-Rp15 juta. Kemudian dijual lagi kepada penjual kedua dengan harga Rp20-Rp25 juta. Lalu bayi dijual lagi kepada pembeli ketiga, dengan kisaran harga Rp40-80 juta. Harga bisa berubah tergantung kondisi bayi, bagus atau tidak. “Bayi lelaki dijual dengan harga paling mahal” (vivanews.com 8/2/13).

Potret Kemiskinan

Kenapa sampai ada seorang ibu yang tega menjual anak kandung (yang baru saja ia lahirkan) ke tangan orang lain? Ini tidak lain karena kondisi kemiskinan yang melingkupi kehidupannya. Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah kondisi yang terjadi. Sudah hidup miskin, menjadi incaran para sindikat penjualan bayi untuk meraup keuntungan. Anggota sindikat biasanya berkeliling kampung, puskesmas dan rumah bersalin mencari keluarga miskin yang akan memiliki anak. Bahkan mereka berani memberi DP kepada bayi yang masih dalam kandungan bila ibunya menyetujui.

Kemiskinan memang bisa membuat orang jadi gelap mata. Membayangkan biaya persalinan yang mahal, biaya pemulihan pasca melahirkan, perawatan bayi dengan segala kebutuhannya, belum lagi jika sudah ada anak-anak lain dalam tanggungan, cukup membuat kaum miskin tidak berfikir jernih lagi. Walhasil, tawaran menjual anak dalam kandungan atau yang baru dilahirkan menjadi solusi praktis yang ditempuh. Motivasinya bisa karena ingin mendapatkan sejumput rupiah (komersil) demi terbebas dari kemiskinan, atau sekedar harapan agar anaknya mendapatkan orang tua yang lebih layak dalam mengurusnya.

Kapitalis biang keladi kemiskinan

Kemiskinan yang menjadi momok bagi manusia dewasa ini, tercipta karena dampak dari penerapan sistem kapitalis yang kufur. Sistem yang kini mendominasi umat manusia ini, tidak pernah memperhatikan terpenuhinya kebutuhan asasi setiap individu manusia. Penguasa dalam sistem buatan manusia ini hanya mementingkan produksi barang dan jasa demi mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi negara, namun abai dalam memastikan sampainya barang dan jasa tersebut kepada setiap individu rakyat. Semua individu, baik yang kuat atau lemah, yang sehat atau cacat dibiarkan berjuang sendiri memenuhi kebutuhan pokoknya. Walhasil sistem ini menjadikan yang kaya makin konglomerat, yang miskin makin melarat.

Karenanya akan selalu ada alasan bagi individu untuk melakukan usaha apa saja – walaupun tindakan terlarang- demi menghindari diri dari kemiskinan. Kriminalitas perdagangan bayi adalah bagian dari tindakan terlarang yang dilakukan akibat kemiskinan yang begitu mendera. Para ibu yang menjual bayi-bayinya, bisa jadi hati kecil mereka meronta-ronta. Mereka bisa jadi sadar bahwa apa yang dilakukan sangatlah tidak berprikemanusiaan dan melanggar fitrah. Namun apa daya, kemiskinan telah memaksa para ibu ini memilih jalan pintas. Tentu saja didukung dengan kelemahan iman yang ada pada diri mereka.

Kapitalis juga menganggap setiap ‘keinginan’ manusia harus dipenuhi ibarat ‘kebutuhan’. Selagi ada keinginan/ permintaan, maka di situlah ada peluang bisnis. Ketika ada pihak yang menginginkan bayi untuk misi apa pun (untuk dirawat, diperjualbelikan, dll), maka hukum pasar pun berlaku. Tak ada perhitungan halal-haram, norma susila, atau welas asih demi meraup keuntungan. Inilah yang terjadi dalam perdagangan bayi. Seolah memperdagangkan barang yang tak bernyawa. Semua ini hanya terjadi dalam sistem kapitalis.

Sistem kapitalis pun dengan leluasa telah menggiring para muslimah ke kancah kehidupan materialistis dan individualis, menjadikan kehidupan perempuan jauh dari ideal. Di satu sisi perempuan atau kaum ibu diarahkan untuk berperilaku konsumtif. Strategi penawaran-penawaran produk kaum kapitalis membuat kaum perempuan merasa harus mengkonsumsinya. Gaya hidup konsumtif pun terjajakan dengan sangat intensif. Mulai dari cara berpakaian, berdandan dan bersikap yang jauh dari cara berperilaku seorang muslimah. Di sisi yang lain, kemiskinan memaksa mereka rela berlelah-lelah mencari nafkah dengan segala resiko berat yang harus dihadapi, termasuk mengorbankan nyawa dan harga diri. Mereka pun harus rela meninggalkan peran fitrah sebagai perempuan; kehilangan peluang membina keluarga ideal berikut kesempatan emas menikmati keajaiban fase tumbuh kembang anak secara sempurna. Lebih tragis lagi, sebelum tumbuh dan berkembang, buah hatinya pun menjadi sarana untuk mendapatkan materi.

Islam memuliakan perempuan

Berbeda dengan sistem kapitalis, Islam telah menjamin perempuan berhak untuk memiliki, menggunakan, dan mengembangkan harta kekayaan yang halal sebagaimana laki-laki. Hanya saja Islam menghendaki perempuan lebih mengutamakan tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah (ummun wa rabba baitin). Apabila tugas utama tersebut sudah ditunaikan, tidak ada larangan kaum perempuan berkecimpung dalam dunia publik, termasuk bisinis. Tapi tetu saja bisnis yang halal dan diridloi Allah SWT. Bukankah salah satu pebisnis ternama pada zaman Nabi SAW adalah ibunda Khadijah r.a.

Islam juga menjamin kebutuhan pokok setiap warga baik laki-laki maupun perempuan. Pemenuhan kebutuhan pokok setiap perempuan ditempuh dengan banyak strategi, di antaranya:

Pertama, mewajibkan laki-laki menafkahi perempuan. Islam memerintahkan setiap laki-laki agar bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” (TQS. al-Baqarah[2]:233). Begitu juga, firman Allah yang maknanya: “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu betempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka” (TQS. ah-Thalaq[65]:6).

Kedua, jika individu itu tetap tidak mampu bekerja menanggung diri, istri dan anak perempuannya maka beban tersebut dialihkan kepada ahli warisnya. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT juga di dalam al-Quran: “… dan ahli waris pun berkewajiban demikian.” (TQS. al-Baqarah[2]: 233).

Ketiga, jika ahli waris tidak ada atau ada tetapi tidak mampu memberi nafkah, maka beban itu beralih kepada negara melalui lembaga Baitul Mal. Tegas sekali Nabi SAW bersabda:
“Aku lebih utama dibandingkan orang-orang beriman daripada diri mereka, siapa yang meninggalkan harta maka bagi keluarganya, dan siapa yang meninggalkan hutang atau tanggungan keluarga, maka datanglah kepadaku, dan menjadi kewajibanku” (HR. Ibnu Hibban).

Negara dalam system Islam, yakni Khilafah akan memaksimalkan pengumpulan zakat, infak dan shadaqah hingga bisa diberikan kepada orang-orang miskin yang membutuhkannya baik laki-laki maupun perempuan. Begitu juga, pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat yaitu pendidikan, kesehatan dan keamanan, khilafah memenuhinya secara langsung dengan menyediakannya kepada rakyat secara gratis.
Dengan mekanisme tersebut tidak akan ada lagi perempuan atau para ibu yang rela menjual bayinya karena alasan kemiskinan, tidak sanggup membiayai hidup dan masa depan anak-anaknya.

Penutup

Sudah saatnya umat negeri ini sadar, bahwa jalan terbaik adalah kembali ke jalan Islam. Jalan yang menjanjikan kemuliaan manusia sebagai individu maupun umat, melalui penerapan aturan Islam secara kaffah dalam wadah Khilafah Islamiyah. Aturan-aturan Islam inilah yang akan menyelesaikan berbagai persoalan manusia secara adil dan menyeluruh, termasuk masalah kemiskinan berikut dampak turunannya. Dalam sistem ini, para penguasa dan rakyat akan saling menjaga dan mengukuhkan dalam melaksanakan ketaatan demi meraih keridhaan Allah. Tak ada pihak yang dirugikan, termasuk kaum perempuan. Jika kapitalisme telah nyata-nyata tidak mampu menyejahterkan perempuan bahkan membuat perempuan terhinakan, maka sudah saatnya kapitalisme segera dicampakkan. Islam sebagai agama terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT untuk manusia, sudah saatnya dijadikan sistem pengganti. Hal ini karena kelayakan system Islam yang tegak atas asas yang shohih karena ia merupakan aturan kehidupan yang datang dari Allah SWT, Dzat yang menciptakan manusia, Yang Maha Tahu akan ciptaan-Nya. Oleh karenanya aturan-aturan yang termaktub di dalamnya pasti sempurna dan pasti akan mampu menjadi solusi bagi seluruh permasalahan manusia secara menyeluruh, tuntas dan paripurna. Wallahu a’lam bishawwab.

Buletin Cermin Wanita Shalihah (CWS)
Edisi ke 17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s