Berlipat Ganda Atau Tidak; RIBA TETAPLAH HARAM…!


“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda.”[TQS Ali Imran (3):130]

Pada dasarnya, keharaman riba secara mutlak telah menjadi perkara yang ma’luum min al-diin wa al-dlarurah. Sejak masa awal-awal Islam hingga menjelang keruntuhan Islam, keharaman riba dalam berbagai bentuknya, berlipat ganda atau tidak, merupakan pendapat yang dipegang teguh oleh ‘ulama-’ulama wara’, dan telah masyhur di kalangan masyarakat awam. Sayangnya, tatkala taraf berfikir umat Islam mengalami kemunduran hingga nyaris mencapai titik nadir, dan ketika system ekonomi kapitalistik berbasis riba diterapkan di tengah-tengah kaum muslim, mulailah bermunculan fatwa ganjil yang tidak pernah dikenal oleh kaum muslim sebelumnya.

Fatwa-fatwa ganjil ini lahir melalui proses istinbath serampangan dan premature. Lebih tragis lagi, fatwa-fatwa ini dibuat untuk menjustifikasi “fakta perbankan yang rusak“, sekaligus dalih untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan korporasi dan sekelompok pelaku bisnis haram. Diantara fatwa ganjil tersebut adalah; bolehnya mengkonsumsi riba –meminjam uang di bank—selama bunganya tidak mencapai kisaran 30% atau 15 %. Ada pula yang berpendapat, bahwa meminjam uang dengan riba diperbolehkan asalkan digunakan untuk kegiatan-kegiatan produktif.

Ada pula yang berpendapat, bahwa pengharaman riba tergantung kepada, ada atau tidak adanya sifat adl’aafah mudlaa’afah (berlipat ganda). Jika riba yang dipungut tidak mengandung unsur adl’aafah mudlaa’afah, maka ia tidak termasuk ke dalam riba yang terlarang. Sebaliknya, jika riba yang diambil telah berlipat ganda, maka riba semacam ini terkategori riba yang terlarang. Lantas, benarkah pendapat semacam ini?

Untuk menjawab syubhat dalam masalah ini, kita mesti merujuk kembali kepada al-Quran dan Sunnah, serta kaedah istinbath yang benar agar tersingkap mana pendapat yang benar dan mana pendapat premature yang menyimpang dari syariat Islam.

Frase “Adl’aafah mudlaa’afah ” Bukan Pentakhshish

Benar, lafadz adl’aafah berkedudukan sebagai haal dari kata al-riba (maf’ul bihi). Sedangkan kata ” mudlaa’afah” adalah na’at (sifat) dari kata ” adl’aafah “. Menurut kaedah ushul fiqh, haal dan shifat bisa mentakhshish maupun memberi faedah kepada ‘illat.

Akan tetapi, tidak semua lafadz yang berkedudukan sebagai haal bisa mentakhshish hukum yang terkandung di dalam nash. Sebab, haal kadang-kadang hanya berfungsi sebagai bayaan al-haal (penjelas suatu keadaan), atau kadang-kadang berfungsi sebagai ta’kid al-amr, bukan sebagai pentakhshish. Haal seperti ini tidak absah digunakan sebagai pentakhshish.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah lafadz “adl’aafah mudlaa’afah” pada surat Ali Imron :130 bisa mentakhshish hukum yang terkandung di dalam nash atau tidak? Ataukah ia hanya berfungsi sebagai bayaan li al-haal (menjelaskan keadaan) saja, sehingga ia tidak memiliki mafhum mukhalafah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita menyimak penjelasan para ‘ulama yang memiliki kredibilitas ilmu, baik ilmu lughah, ushul, fikih, hadits, dan tafsir.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Kitab Fath al-Baariy mengatakan:

قَوْلُهُ تَعَالَى فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ وَالْمَعْنَى أَنَّ مَا آلَ أَمْرُهُ إِلَى اْلِاضْلَالِ أَوْ هُوَ مِنْ تَخْصِيْصِ بَعْضِ اَفْرَادِ اْلعُمُوْمِ بِالذِّكْرِ فَلاَ مَفْهُوْمَ لَهُ كَقَوْلِهِ تَعَالَى لَا تَأْكُلُوْا الرِّبَا اَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَلَا تَقْتُلُوْا أَوْلَادَكُمْ مِنْ اِمْلَاقٍ فَإِنَّ قَتْلَ اْلأَوْلَادِ وَمُضَاعَفَةَ الرِّبَا وَاْلِاضْلَالَ فِي هَذِهِ الآيَاتِ ِإنَّماَ هُوَ لِتَاْكِيْدِ الأَمْرِ فِيْهَا لَا لِاِخْتِصَاصِ الْحُكْمِ

“Adapun firman Allah, “Maka, siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” [al-An’aam:144], maknanya ini adalah,”Sebab-sebab umum (dari kedustaan) adalah untuk penyesatan; atau penyebutan yang ditujukan untuk mengkhususkan sebagian dari perkara-perkara yang bersifat umum”. Oleh karena itu, ayat ini tidak memiliki mafhum, seperti firman Allah swt, “Janganlah kalian memakan riba secara berlipat ganda” (Ali Imron:130); dan “janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin”[al-Israa’:31]. Sesungguhnya membunuh anak-anak, riba yang berlipat ganda, serta kesesatan pada ayat-ayat tersebut hanya berfungsi sebagai ta’kiid al-amr (menegaskan perintah) saja, tidak berfungsi sebagai pentakhshish hukum…”[al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Baariy, juz 1/200]

Artinya, firman Allah swt surat al-An’am:144, Ali Imron:130; dan Al-Israa’:31, hanyalah menunjukkan factor-faktor dominant (alasan umum) mengapa seseorang melakukan kedustaan atas nama Allah, memakan riba, dan membunuh anak-anak mereka. Mafhum mukhalafah tidak berlaku pada ayat-ayat semacam ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh menarik mafhum mukhalafah; seseorang boleh berdusta atas nama Allah jika tidak ditujukan untuk menyesatkan manusia. Kita juga boleh memahami, bahwa membunuh anak diperbolehkan jika tidak takut miskin. Begitu pula pemahaman terhadap firman Allah swt surat Ali Imron ayat 31; kita tidak boleh memahami, bahwa seorang mukmin boleh memakan riba, jika tidak diambil secara berlipat ganda. Sebab, lafadz “adl’aafah mudlaa’afah” yang terdapat dalam ayat di atas hanya menunjukkan keadaan yang seringkali terjadi pada masa itu, bukan sebagai pentakhshish ataupun pentaqyiid .

Surat al-Israa’ ayat 31 hanya menunjukkan pengertian, bahwa kebanyakan pembunuhan terhadap anak pada saat itu disebabkan karena takut miskin. Sedangkan surat al-A’raf ayat 144 menjelaskan, bahwa berdusta atas nama Allah sering dilakukan untuk menyesatkan manusia. Namun, tidak menutup kemungkinan adanya kedustaan yang tidak ditujukan untuk menyesatkan manusia.

Demikian pula makna yang ditunjukkan oleh surat Ali Imran ayat 130. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan pengertian, bahwa riba yang haram dimakan adalah riba yang berlipat ganda, sedangkan yang tidak berlipat ganda boleh dimakan. Ayat ini hanya menunjukkan pengertian, bahwa riba yang biasa dan sering dilakukan oleh masyarakat saat itu, adalah riba yang dipungut secara berlipat ganda. Lafadz adl’aafah mudlaa’afah berkedudukan sebagai bayaan al-haal, bukan sebagai pentakhshish maupun pentaqyiid. Untuk itu, lafadz “adl’aafah mudlaa’afah” sama sekali tidak mengkhususkan, ataupun mentaqyid keharaman riba secara mutlak. Oleh karena itu, mafhum mukhalafah tidak berlaku pada ayat ini.

Imam al-Baidlawiy, dalam Tafsir Baidlawiy menyatakan, bahwa ayat ini hanyalah pengkhususan yang sejalan dengan fakta tertentu.”[Imam al-Baidlawiy, Tafsir al-Baidlawiy, juz 2/91]

Imam al-Syaukani, dalam Fath al-Qadiir menyatakan bahwa lafadz adl’aafah mudlaa’afah tidak berfungsi sebagai pentaqyiid dari larangan riba. Keharaman riba secara mutlak dalam setiap kondisi dan keadaan telah diketahui secara luas. Lafadz adl’aafah mudlaa’afah hanya menunjukkan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu; dimana mereka melakukan kelaliman dengan muamalah riba.[Imam Syaukaniy, Fath al-Qadiir, juz 1/380-181]

Syaikh al-Mufassiriin, Imam Ibnu ‘Arabiy menyatakan, “Lafadz adl’aafah mudlaa’afah mempunyai dua pengertian. Pertama, berlipat ganda karena bertambahnya tenggat waktu, dan setiap tenggat waktu ditarik tambahan dari harta pinjaman. Kedua, berlipat gandanya dengan adanya riba. Oleh karena itu, lafadz adl’aafah mudlaa’afah ini hanya menyebutkan konteks keadaan tertentu, dan tidak menunjukkan pengertian sebaliknya, yakni jika riba yang ditarik tidak berlipat ganda maka hukumnya tidak haram. Seandainya lafadz adl’aafah mudlaa’afah dipahami seperti itu, tentunya jika riba yang ditarik tidak berlipat ganda, maka hukumnya tidak haram. Dengan kata lain, keharaman riba tergantung dari ada atau tidak adanya sifat tersebut (adl’aafah mudlaa’afah). Pendapat seperti ini adalah pendapat bathil. Pemahaman seperti ini telah dihapus oleh keharaman riba secara mutlak, sebagaimana firman Allah swt, “Telah diharamkan riba..”[al-Baqarah: 275] [Imam Ibnu ‘Arabiy, Ahkaam al-Quran, juz 2/325]

Ali al-Shabuniy dalam kitab Shafwaat al-Tafaasiir, menyatakan:

“Penyebutan lafadz “adl’aafah mudlaa’afah” pada ayat ini (surat Ali Imron:130) bukan untuk mentaqyiid atau sebagai persyaratan. Sesungguhnya penyebutan lafadz tersebut hanyalah untuk menjelaskan keadaan (libayaan al-haal) yang terjadi pada masyarakat jahiliyyah pada saat itu. Selain itu, penyebutan lafadz tersebut juga ditujukan untuk mencaci maki (li tasynii’) mereka. Sebab, mu’amalah riba merupakan kedzaliman dan kelaliman yang nyata, dikarenakan mereka telah mengambil riba secara berlipat ganda”[Ali Al-Shabuniy, Shafwaat al-Tafaasiir, juz 1/229]

Abu Hayan menyatakan,”Riba dengan berbagai bentuknya adalah haram. Haal seperti ini (adl’aafah mudlaa’afah) bukanlah qayyid (membatasi) larangan dalam ayat tersebut.”[Bahr al-Muhiith, juz 3/53]

Dalam Kitab Hujjaj al-Quran disebutkan bahwa kemutlakan larangan riba tidak bisa ditaqyiid (dibatasi) dengan firman Allah swt,”Janganlah kalian memakan riba secara berlipat ganda.”[Ali Imron:130][ al-Raaziy, Kitab Hujjaj al-Quran, juz 1/73]

Pendapat di atas juga dipegang oleh Imam Thabariy, Imam Qurthubiy, Imam Nasafiy, dan mufassir yang lain.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan, bahwa kata adl’aafah mudlaa’afah sama sekali tidak mentakhshish hukum keharaman riba secara mutlak. Keharaman riba tetap berlaku secara mutlak, baik dipungut secara berlipat ganda maupun tidak. Benar, adl’aafah mudlaa’afah berkedudukan sebagai haal, namun, tidak secara otomatis frasa yang berkedudukan sebagai haal bisa mentakhshiish hukum yang terkandung di dalam nash. Sebab, frasa yang berkedudukan sebagai haal, kadang-kadang hanya berfungsi sebagai bayaan al-haal (menjelaskan keadaan tertentu saja). Kata adl’aafah mudlaa’afah dalam surat Ali Imron ayat 130 ini hanya berfungsi sebagai bayaan al-haal. Dengan kata lain, frasa ini hanya menunjukkan adat istiadat masyarakat yang ada pada saat itu, bukan sebagai pentakhshish, sehingga tidak berlaku mafhum mukhalafah di dalamnya. Walhasil, frasa adl’aafah mudlaa’afah ini tidak bisa mentakhshish larangan riba secara mutlak.

Dari sini kita juga bisa menyimpulkan, bahwa riba yang diambil berlipat ganda atau tidak, hukumnya adalah haram. Seorang mukmin mesti menjauhi riba sejauh-jauhnya. Seorang mukmin dilarang mengkonsumsi riba –memanfaatkan riba untuk apapun–, baik berlipat ganda ataupun tidak. Ini bisa dimengerti karena, dosa memanfaatkan riba dalam bentuk apapun, baik konsumtif maupun produktif, lebih besar daripada dosanya orang berzina. Imam Ahmad menuturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

“Dirham riba yang dimakan laki-laki dan dia mengetahui bahwa itu adalah riba, maka dosanya lebih dari enam puluh tiga orang berzina.”[HR. Imam Ahmad dengan sanad shahih]

Adl’aafah Mudlaa’afah Sebagai Pentakhshiish?

Sebenarnya, penjelasan para ‘ulama di atas sudah cukup untuk menangkis pendapat yang menyatakan, frasa “adl’aafah mudlaa’afah” bisa mentakhshish hukum pelarangan riba secara mutlak. Anehnya, masih saja ada pihak yang tetap ngotot mempertahankan pendapat bathilnya, dengan mengatakan, bahwa frasa adl’aafah mudla’aafah bisa mentakhshish keharaman riba secara mutlak, sehingga mafhum mukhalafahnya bisa diberlakukan. Akhirnya, mereka menyimpulkan secara serampangan, bahwa seorang muslim tetap diperbolehkan mengkonsumsi riba asalkan tidak berlipat ganda. Mereka beralasan, bahwa frasa ”adl’afah mudla’afah” tidak menerangkan adat istiadat atau kebiasaan yang sering terjadi pada saat, sehingga berfungsi sebagai takhshish. Untuk membuktikan pendapatnya, mereka mengetengahkan riwayat yang menjadi sebab turunnya surat Ali Imron:130, dimana riwayat tersebut menunjukkan, bahwa frasa adl’aafah mudlaa’afah bukanlah makhraj al-ghaalib, sehingga berlakulah mafhum mukhalafah.

“Dari Ibnu Zaid, ia berkata,”Adalah ayahku Zaid (seorang alim lagi shahabat yang mulia) berkata, “Adanya riba di zaman jahiliyyah itu hanya dalam berlipat gandanya (uang) dan umur (binatang yang dipinjam)..”

Menurut mereka, hadits ini menunjukkan, bahwa tidak ada riba di jaman jahiliyyah yang tidak berlipat ganda. Semua riba di jaman jahiliyyah adalah berlipat ganda. Oleh karena itu, frasa “adl’aaf mudla’af” berfungsi sebagai pentakhshish, bukan sebagai makhraj al-ghalib , sehingga, berlakulah mafhum mukhalafah.

Adapun bantahan atas pendapat di atas adalah sebagai berikut.

Pertama, yang dimaksud dengan “fi al-tadl’iif” di dalam hadits di atas adalah riba nasii`ah, bukan sifat dari riba yang berlipat ganda. Sebab, riba nasi’ah biasanya berlipat ganda. Namun demikian, tidak bisa dipahami, bahwa riba jahiliyyah itu hanyalah riba nasii’ah saja. Seandainya “kata tadl’iif” disitu ditafsirkan berlipat ganda, tidak benar juga dipahami, bahwa semua riba di jaman jahiliyyah pasti berlipat ganda. Sebab, kata “innamaa” tidak pasti menunjukkan fungsi untuk membatasi (li al-hashr).

Seluruh ahli lughah memahami bahwa kata “innamaa” tidak mutlak ditujukan untuk membatasi (li al-hashr). Oleh karena itu, mafhum mukhalafah tidak bisa diterapkan pada nash-nash yang mengandung kata “innamaa“. Sebab, kata “innamaa” kadang-kadang ditujukan untuk “al-hashr“, kadang-kadang tidak. Untuk itu, tidak bisa dinyatakan, bahwa semua riba di jaman jahiliyyah pasti berlipat ganda (atau riba nasii’ah), hanya karena di dalam nash tersebut terdapat kata “innamaa“.

Imam al-Amidiy dalam Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam menyatakan, bahwa kata “innamaa“, tidak pasti menunjukkan makna “al-hashr“. Pendapat ini lebih kuat dan rajih. Sebab, masih menurut al-Amidiy, kata “innamaa” kadang-kadang digunakan untuk “al-hasr” kadang-kadang tidak.[Imam Al-Amidiy, al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam, juz 2/68]

Berikut ini adalah contoh nash-nash yang di dalamnya terdapat kata “innamaa” yang ditujukan untuk membatasi (li al-hashr) dan yang tidak ditujukan untuk membatasi. Kata “innamaa” yang terdapat pada dua ayat berikut ini berfungsi untuk al-hashr (membatasi).

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[Al-Taubah:60]

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa“.” [al-Kahfi:110]

Adapun kata “innamaa” yang terdapat dalam nash-nash berikut ini tidak ditujukan untuk membatasi (al-hasr). Perhatikan contoh-contoh berikut ini:

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّمَا الشُّفْعَةُ فِيمَا لا يُقْسَمُ

“Sesungguhnya, syuf’ah terjadi pada apa-apa yang tidak bisa dibagi”[HR. Imam Malik dalam al-Muwatha’]

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan berdasarkan apa yang diniatkannya.”[HR. Bukhari]

فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ

“Wala’ (loyalitas) diberikan kepada orang yang membebaskan.”[HR. Bukhari]

Kata “innama” yang terdapat dalam nash-nash di atas tidak ditujukan untuk membatasi (li al-hashr). Sebab, syuf’ah tidak hanya terbatas bagi syariik saja (orang yang berserikat), akan tetapi juga ditetapkan bagi tetangga. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw:

الْجَارُ أَحَقُّ بِشُفْعَتِهِ

“Tetangga itu adalah paling berhak mendapatkan syuf’ah milik tetangganya.”[HR. Ashhaab Sunan, sanadnya shahih dari Jabir]

Adapun hadits kedua; sesungguhnya amal itu tidak tergantung dari niatnya belaka, akan tetapi juga dilihat dari benarnya (sesuai dengan syariat atau tidak). Bahkan, ada amal-amal yang tidak disyaratkan adanya niat. Demikian juga hadits ketiga, wala’ tidak hanya diberikan kepada orang yang membebaskan saja.

Demikian juga kata “innamaa” yang terdapat di dalam hadits-hadits yang berbicara tentang riba nasii’ah dengan redaksi nasii’ah atau tadl’iif, semuanya tidak dimaksudkan untuk membatasi (li al-hashr). Dalam keadaan semacam ini, mafhum mukhalafahnya tidak bisa berlaku. Jika mafhum mukhalafahnya tidak berlaku, maka, tidak bisa disimpulkan, bahwa semua riba jahiliyyah pasti berlipat ganda.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas, dari Usamah bin Zaid, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

إِنَّمَا الرِّبَا فِي النَّسِيئَةِ

“Sesungguhnya, riba itu hanya ada pada nasii`ah (riba nasii`ah).”[HR. Muslim]

Kata “innamaa” di dalam hadits ini tidak berfungsi untuk membatasi (li al-hashr). Seandainya kata “innamaa” pasti menunjukkan pengertian li al-hashr, tentunya kita akan memahami, bahwa riba itu hanya terjadi pada nasii’ah saja. Padahal, riba tidak hanya terjadi pada nasii’ah, akan tetapi terjadi pula pada fadlal (riba fadlal). Ijma’ shahabat telah mengukuhkan adanya riba fadl, dan seluruhnya bersepakat mengenai keharaman riba fadlal, kecuali Ibnu ‘Abbas. Pengingkaran Ibnu ‘Abbas terhadap riba fadlal saat itu, bisa dimengerti karena ia belum mendengar riwayat-riwayat yang mengharamkan riba fadlal. Namun, setelah mendengar riwayat yang melarang riba fadlal, akhirnya, Ibnu ‘Abbas mencabut pendapatnya, dan menyatakan bahwa riba fadlal adalah haram. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat-riwayat berikut;

أَنَّ أَبَا صَالِحٍ الزَّيَّاتَ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ الدِّينَارُ بِالدِّينَارِ وَالدِّرْهَمُ بِالدِّرْهَمِ فَقُلْتُ لَهُ فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ لَا يَقُولُهُ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ سَأَلْتُهُ فَقُلْتُ سَمِعْتَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ وَجَدْتَهُ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ كُلَّ ذَلِكَ لَا أَقُولُ وَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنِّي وَلَكِنْ أَخْبَرَنِي أُسَامَةُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا رِبًا إِلَّا فِي النَّسِيئَةِ

“Abu Shalih mengisahkan, bahwa ia pernah mendengar Abu Sa’iid al-Khudriy berkata, “Dinar dengan dinar, dirhaam dengan dirham.” Kemudian, saya berkata kepadanya, “Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas tidak mengatakan seperti itu.” Abu Sa’iid berkata,” Saya pernah bertanya kepadanya tentang hadits ini, kemudian saya berkata, “Saya mendengar hadits ini dari Nabi saw atau engkau mendapatinya di dalam Kitabullah. Ibnu ‘Abbas berkata, “Semua itu tidak pernah saya katakan, dan anda lebih mengetahui Rasulullah saw dibandingkan aku. Akan tetapi, Usamah bin Zaid telah mengabarkan kepadaku, bahwa Nabi saw bersabda, “Tidak ada riba kecuali di dalam nasii’ah. [HR. Bukhari, hadits. 2032]

Riwayat ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbas saat itu belum mendengar riwayat yang berbicara mengenai larangan riba fadlal. Akan tetapi, tatkala beliau ra menerima hadits dari Abu Sa’iid al-Khudriy, beliau segera membatalkan pendapatnya, dan mengakui keharaman riba fadlal. Ini ditunjukkan oleh riwayat-riwayat berikut ini.

Imam al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Hayan al-’Adawiy:

روى الحاكم من طريق حيان العدوي سألت أبا مجلز عن الصرف فقال : كان ابن عباس لا يرى به بأسا زمانا من عمره ما كان منه عينا بعين يدا بيد . وكان يقول : إنما الربا في النسيئة . فلقيه أبو سعيد فذكر القصة والحديث وفيه : التمر بالتمر والحنطة بالحنطة والشعير بالشعير والذهب بالذهب والفضة بالفضة يدا بيد مثلا بمثل فمن زاد فهو ربا . فقال ابن عباس : أستغفر الله وأتوب إليه

“Imam al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Hayan al-’Adawiy, dimana ia berkata, “Saya pernah bertanya kepada Abu Majliz tentang sharaf (pertukaran). Ia menjawab, “Ibnu ‘Abbas tidak memandang hal itu sebagai dosa, selama dzat bendanya sama, dan kontan.” Kemudian, ia berkata, “Riba itu hanya pada nasii’ah.” Setelah itu, Abu Sa’iid mendatanginya, dan menuturkan sebuah kisah dan hadits, dimana di dalamnya termaktub, “Korma dengan korma, rumput dengan rumput, gandum dengan gandum, emas dengan emas, perak dengan perak, dilakukan dengan kontan dan kuantitasnya harus sama. Siapa saja yang melebihkan (menambah) maka itu terkategori riba.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Astaghfirullah wa atuubu ilaihi” (Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya).” [lihat Syarah Hadits Tirmidziy, Tuhfat al-Ahwadziy]

Imam Ahmad mengetengahkan pula sebuah riwayat dari Ali al-Rabi’iy, bahwasanya Abu al-Jauzaa` berkata:

سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُفْتِي فِي الصَّرْفِ قَالَ فَأَفْتَيْتُ بِهِ زَمَانًا قَالَ ثُمَّ لَقِيتُهُ فَرَجَعَ عَنْهُ قَالَ فَقُلْتُ لَهُ وَلِمَ فَقَالَ إِنَّمَا هُوَ رَأْيٌ رَأَيْتُهُ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهُ

“Saya mendengar Ibnu ‘Abbas menfatwakan (bolehnya) sharaf.” Kemudian, Abu al-Jauzaa` berkata lagi,”Sejak saat itu, saya selalu berfatwa dengan pendapat Ibnu ‘Abbas ini.” Ia berkata, “Setelah itu saya menemui Ibnu ‘Abbas, dan ia telah mencabut fatwanya”. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa engkau cabut fatwamu?” Ia menjawab, “Sesungguhnya, fatwa itu adalah pendapatku sendiri, dan Sa’iid al-Khudriy telah menyampaikan sebuah hadits kepadaku bahwa Rasulullah saw telah melarang hal itu (sharaf).”[HR. Imam Ahmad dengan sanad shahih]

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Baariy menjelaskan sebagai berikut:

رُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ كَانَ لَا يَرَى بَأْسًا أَنْ يُبَاعَ الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ مُتَفَاضِلًا وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ مُتَفَاضِلًا إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ و قَالَ إِنَّمَا الرِّبَا فِي النَّسِيئَةِ وَكَذَلِكَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِهِ شَيْءٌ مِنْ هَذَا وَقَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ رَجَعَ عَنْ قَوْلِهِ حِينَ حَدَّثَهُ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia tidak memandang dosa, jual beli emas dengan emas, dan perak dengan perak yang dilebihkan, semampang dilakukan dengan kontan. Lalu, ia berkata, “Riba itu hanya pada nasii’ah.” Namun demikian, diriwayatkan oleh sebagian shahabatnya riwayat-riwayat yang berbeda dari riwayat ini. Dituturkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia telah mencabut pendapatnya, tatkala Abu Sa’iid al-Khudriy menyampaikan sebuah hadits dari Nabi saw kepadanya.”[Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Baariy].

Walhasil, kesimpulan yang menyatakan bahwa semua riba di jaman jahiliyyah berlipat ganda, adalah kesimpulan gegabah yang tidak sejalan dengan kaedah-kaedah istinbath yang kuat.

Kedua, seandainya kita membenarkan asumsi yang menyatakan, bahwa semua riba di jaman jahiliyyah pasti berlipat ganda, maka, kesimpulan ini justru meruntuhkan argumentasi orang yang membolehkan memakan bunga bank “yang tidak berlipat ganda“. Sebab, kesimpulan semacam ini telah memberikan pemahaman kepada kita, bahwa semua riba jahiliyyah adalah haram secara total; sebab, riba jahiliyyah pasti berlipat ganda. Sebab, menurut mereka riba jahiliyyah adalah riba nasii’ah.

Lantas, apa riba jahiliyyah itu? Apakah riba jahiliyyah itu, riba nasii’ah saja, riba fadlal saja, ataukah kedua-duanya?

Asumsi pertama, seandainya riba jahiliyyah adalah riba nasii’ah saja, sedangkan riba fadlal tidak termasuk di dalamnya, maka seluruh riba nasii’ah pasti berlipat ganda.

Berarti, hanya tinggal satu jenis riba saja yang mengandung kemungkinan berlipat ganda atau tidak, yakni riba fadlal. Padahal, nash-nash yang berbicara tentang riba fadlal, justru menunjukkan, bahwa kelebihan sedikit telah dianggap sebagai riba yang diharamkan. Perhatikan riwayat berikut ini.

‘Abdullah bin ‘Umar meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ فَمَنْ زَادَ أَوْ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبًا

“Emas dengan emas, harus sama timbangannya, dan harus sama kualitasnya. Perak dengan perak harus sama timbangannya, dan harus sama kualitasnya. Barangsiapa yang menambah atau meminta tambah, maka itu adalah riba.”[HR. Muslim]

Hadits ini –dan masih banyak riwayat yang senada— telah menjelaskan bahwa jual beli emas harus dilakukan dalam kuantitas dan kualitas yang sama. Kelebihan sedikitpun bisa dianggap sebagai riba. Berdasarkan hadits ini, bisa disimpulkan bahwa tambahan atau kelebihan sebesar 0,00% yang ditambahkan atau diminta untuk ditambahkan dalam sebuah transaksi adalah riba tanpa perlu takwil lagi. Walhasil, asumsi pertama, justru telah berimplikasi pada pengharaman riba secara mutlak, baik yang diambil secara berlipat ganda atau tidak.

Asumsi kedua, jika yang dimaksud riba jahiliyyah adalah riba nasii’ah dan fadlal, maka kita bisa menyimpulkan bahwa seluruh riba apapun bentuknya adalah haram secara mutlak, berapapun kuantitas tambahannya. Bahkan, asumsi kedua ini justru menunjukkan bahwa tambahan berapapun sudah terkategori berlipat ganda. Sebab, masih menurut mereka, semua riba jahiliyyah (nasii’ah dan fadlal) pasti berlipat ganda. Oleh karena itu, asumsi kedua ini juga menunjukkan bahwa riba telah diharamkan secara mutlak.

Asumsi ketiga, jika yang dimaksud dengan riba jahiliyyah adalah riba fadlal saja, berarti, bahwa riba fadlal pasti berlipat ganda, sedangkan riba nasii’ah bisa berlipat ganda, bisa tidak. Asumsi ini jelas-jelas salah, dan bertentangan dengan banyak riwayat, bila ditinjau dari dua sisi. Sisi pertama, asumsi ini bertentangan dengan banyak riwayat. Banyak riwayat menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan riba jahiliyyah adalah riba nasii’ah, bukan riba fadlal. Seandainya kita mengabaikan riwayat-riwayat ini, dan membenarkan anggapan bahwa riba jahiliyyah adalah riba fadlal, maka asumsi ini justru akan menunjukkan bahwa semua riba pasti haram. Sebab, asumsi ini akan membawa orang untuk memahami, bahwa berapapun tambahan yang dipungut sudah termasuk berlipat ganda. Hadits yang berbicara tentang riba fadlal menunjukkan dengan jelas, bahwa tambahan yang dikutip berapapun kuantitasnya sudah dianggap riba yang diharamkan.

“Emas dengan emas, harus sama timbangannya, dan harus sama kualitasnya. Perak dengan perak harus sama timbangannya, dan harus sama kualitasnya. Barangsiapa yang menambah atau meminta tambah, maka itu adalah riba.”[HR. Muslim]

Hadits ini menjelaskan dengan sangat jelas, bahwa berapapun kuantitas tambahannya, sudah terkategori riba fadlal. Jika asumsinya adalah riba jahiliyyah adalah riba fadlal, dan semua riba jahiliyyah berlipat ganda, maka kelebihan sebanyak 0,000% sudah dianggap sebagai berlipat ganda, sehingga haram hukumnya. Kesimpulan ini akan membawa kita untuk memahami bahwa berapapun tambahan yang dipungut dalam riba nasii’ah sudah termasuk riba yang berlipat ganda. Dengan demikian, asumsi ketiga ini pun menutup kemungkinan untuk membolehkan riba yang tidak berlipat ganda. Sebab, semuanya pasti berlipat ganda. Walhasil, jika seseorang meminjam uang di bank, kemudian bank mensyaratkan bunga pinjaman sebesar (tambahan) 0,000% maka orang tersebut telah meriba. Padahal, dosa memakan riba lebih besar dibandingkan dengan dosa orang yang berzina.

Mungkin, ada yang menyatakan, bahwa yang berlipat ganda itu pada sifatnya, bukan pada jenis ribanya. Dengan kata lain, riba yang dilarang adalah riba nasii’ah atau riba fadlal yang dipungut dengan berlipat ganda; sedangkan yang tidak berlipat ganda tidak diharamkan. Pernyataan semacam ini telah digugurkan dengan kenyataan, bahwa pertambahan sekecil apapun dalam riba fadlal adalah sesuatu yang diharamkan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengharaman riba tidak berhubungan sama sekali dengan berlipat ganda atau tidak.

Ketiga, Seandainya syariat membolehkan kaum muslim mengkonsumsi riba yang tidak berlipat ganda, kesimpulan semacam ini justru bertentangan dengan firman Allah swt berikut ini:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Maka jika kami tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”[al-Baqarah:279]

Seandainya riba yang tidak berlipat ganda diperbolehkan, tentunya seseorang yang terlanjur memungut riba, berhak mengambil pokok hartanya dan riba yang tidak berlipat ganda itu. Namun, nash di atas dengan tegas menyatakan bahwa orang yang memakan riba harus mengembalikan seluruh riba yang dimakannya, dan ia hanya berhak mengambil harta pokoknya saja. Ini menunjukkan bahwa riba yang tidak berlipat ganda pun harus dikembalikan, alias ia termasuk perbuatan yang diharamkan oleh Allah swt. Sebab, Allah swt menyatakan, “maka bagimu pokok hartamu”, dan tidak menyatakan, “maka bagimu pokok hartamu dan riba yang tidak berlipat ganda.”

Macam-Macam Riba

Menurut sebagian ulama, riba dibagi menjadi dua, (1) riba nasi’ah, dan (2) riba fadlal. Menurut Syafi’iyyah, riba dibagi menjadi tiga; (1) riba nasi’ah, (2) riba fadlal, (3) riba yadd. [Mohammad Ali As-Sais, Tafsiir Ayat al-Ahkaam, hal. 162] Berdasarkan klasifikasi di atas, kita dapat mengklasifikasi riba menjadi empat macam.

1. Riba Nasiah

Riba yang diambil karena penundaan pembayaran utang untuk dibayarkan pada tempo yang baru, sama saja apakah itu utang berupa harga pembelian atau qardh.

Adapun dalil pelarangannya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim;

الرِّبَا فِيْ النَّسِيْئَةِ

” Riba itu dalam nasi’ah”. (HR Muslim dari Ibnu Abbas)

Ibnu Abbas berkata: Usamah bin Zaid telah menyampaikan kepadaku bahwa Rasulullah saw bersabda:

آلاَ إِنَّمَا الرِّبَا فِيْ النَّسِيْئَةِ

“Ingatlah, sesungguhnya riba itu dalam nasi’ah”. (HR Muslim).

2. Riba al-Fadhl

Riba yang diambil dari kelebihan dari pertukaran barang yang sejenis. Dalil pelarangannya adalah hadits yang dituturkan oleh Imam Muslim.

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, semisal, setara, dan kontan. Apabila jenisnya berbeda, juallah sesuka hatimu jika dilakukan dengan kontan”.HR Muslim dari Ubadah bin Shamit ra).

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ فَمَنْ زَادَ أَوْ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبًا

“Emas dengan emas, setimbang dan semisal; perak dengan perak, setimbang dan semisal; barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka (tambahannya) itu adalah riba”. (HR Muslim dari Abu Hurairah).

عن فضالة قال: اشتريت يوم خيبر قلادة باثني عشر دينارًا فيها ذهب وخرز، ففصّلتها فوجدت فيها أكثر من اثني عشر ديناراً، فذكرت ذلك للنبي صلّى الله عليه وسلّم فقال: ”لا تباع حتى تفصل“

“Dari Fudhalah berkata: Saya membeli kalung pada perang Khaibar seharga dua belas dinar. Di dalamnya ada emas dan merjan. Setelah aku pisahkan (antara emas dan merjan), aku mendapatinya lebih dari dua belas dinar. Hal itu saya sampaikan kepada Nabi saw. Beliau pun bersabda, “Jangan dijual hingga dipisahkan (antara emas dengan lainnya)”. (HR Muslim dari Fudhalah)

Dari Said bin Musayyab bahwa Abu Hurairah dan Abu Said:

أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم بعث أخا بني عدي الأنصاري فاستعمله على خيبر، فقدم بتمر جنيب [نوع من التمر من أعلاه وأجوده] فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: ”أكلّ تمر خيبر هكذا“؟ قال: لا والله يا رسول الله، إنا لنشتري الصاع بالصاعين من الجمع [نوع من التمر الرديء وقد فسر بأنه الخليط من التمر]، فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: ”لا تفعلوا ولكن مثلاً بمثل أو بيعوا هذا واشتروا بثمنه من هذا، وكذلك الميزان“

“Sesungguhnya Rasulullah saw mengutus saudara Bani Adi al-Anshari untuk dipekerjakan di Khaibar. Kamudia dia datang dengan membawa kurma Janib (salah satu jenis kurma yang berkualitas tinggi dan bagus). Rasulullah saw bersabda, “Apakah semua kurma Khaibar seperti itu?” Dia menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah . Sesunguhnya kami membeli satu sha’ dengan dua sha’ dari al-jam’ (salah satu jenis kurma yang jelek, ditafsirkan juga campuran kurma). Rasulullah saw bersabda, “Jangan kamu lakukan itu, tapi (tukarlah) yang setara atau juallah kurma (yang jelek itu) dan belilah (kurma yang bagus) dengan uang hasil penjualan itu. Demikianlah timbangan itu”. (HR Muslim).

3. Riba al-Yadd

Riba yang disebabkan karena penundaan pembayaran dalam pertukaran barang-barang. Dengan kata lain, pihak peminjam dan yang meminjamkan uang/barang telah berpisah dari tempat aqad sebelum diadakan serah terima.

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ

“Emas dengan emas riba kecuali dengan dibayarkan kontan, gandum dengan gandum riba kecuali dengan dibayarkan kontan; kurma dengan kurma riba kecuali dengan dibayarkan kontan; kismis dengan kismis riba, kecuali dengan dibayarkan kontan (HR al-Bukhari dari Umar bin al-Khaththab)

الْوَرِقُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالتَّمْرُِالتَّمْرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ

“Perak dengan emas riba kecuali dengan dibayarkan kontan; gandum dengan gandum riba kecuali dengan dibayarkan kontan kismis dengan kismis riba, kecuali dengan dibayarkan kontan; kurma dengan kurma riba kecuali dengan dibayarkan kontan“. [Ibnu Qudamah, Al-Mughniy, juz IV, hal. 13]

4. Riba Qardl.

Riba qaradl adalah meminjam uang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan atau keuntungan bagi pemberi pinjaman.

Pelarangan ini sejalan dengan kaedah ushul fiqh;

كُـُّل قَرْضٍ جَرَّ َنْفَعاً فَهُوَ ِرَبا

Kullu qardl jarra naf’an fahuwa riba”. (Setiap pinjaman yang menarik keuntungan (membuahkan bunga) adalah riba”.[Sayyid Saabiq, Fiqh al-Sunnah, (edisi terjemahan); jilid xii, hal. 133]

Bunga pinjaman yang ditarik oleh bank-bank saat ini termasuk dalam kategori riba qardl, dan hukumnya adalah haram. Pasalnya, pinjaman tersebut disyaratkan atau telah dipahami harus dikembalikan dengan menambahkan kelebihannya (bunga hutang).

Peringatan-peringatan di dalam Al-Quran dan Sunnah Mengenai Riba

Sesungguhnya, banyak sekali peringatan di dalam al-Quran dan Sunnah bagi orang-orang yang melibatkan diri dengan aktivitas riba. Peringatan itu demikian kerasnya, hingga taraf deklarasi perang dari Allah dan RasulNya bagi siapa saja yang masih memakan riba dengan berbagai macam jenisnya. Allah swt berfirman;

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبا لا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (QS al-Baqarah: 275).

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. (QS al-Baqarah: 276).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS al-Baqarah: 279).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبا أَضْعَافاً مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS Ali Imron: 130).

Peringatan di dalam Sunnah

Nabi Mohammad saw, Nabi yang sangat kita cintai dan mulyakan, melalui lisannya yang suci dan mulia telah bersabda;

اجْتَنِبُوُا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ, قُلْنَا: وَمَا هُنّ يَا رَسُوْلََ اللهِ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالحْقِّ وَأَكْلَ الرِّبَا وَأَكْلَ مَالِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلَّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقًَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتَ الْغَافِلَاتِ

“Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan. Kami bertanya, Apa itu wahai Rasulullah? Beliau menjawa, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, berlari dari medan pertempuran, menuduh zina mu’minah yang menjaga kehormatannya”. (HR Muslim dari ABu Hurairah).

دِرْهَمُ رِبَا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ زِنْيَةً

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka itu lebih berat daripada enam puluh kali zina”. (HR Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah).

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلّّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الدَّمِ، وَثَمَنِ الْكَلْبِ، وَكَسْبِ الْأَمَةِ، وَلَعَنَ الْوَاشِمَةِ، وَالْمُسْتَوْشَمَةِ، وَآَكِلَ الرِّبََا، وَمُوَكِّلَهُ، وَلَعَنَ الْمُصّوِّرِ

“Sesungguhnya Rasulullah saw melarang hasil penjualan darah, hasil penjualan anjing, dan penghasilan budak wanita; dan melaknat orang yang mentato, yang diminta mentato, pemakan riba, dan pemberi riba; dan melaknat pelukis”. (HR al-Bukhari dari ABu Jahifah dari bapaknya).

الرِبَا ثَلاثَةٌَ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ, وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عَرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمَ

“Riba itu mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menzinai ibunya, dan sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan seorang muslim”. (HR Ibn Majah).

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّباَ وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ, وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah saw melaknat orang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Beliau bersabda; Mereka semua sama”. (HR Muslim)

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا والرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Apabila zina dan riba telah nampak (mendominasi) di suatu kampung, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan diri mereka dari azab Allah”. (HR al-Thabarani dan al-Hakim).

Inilah peringatan-peringatan dari Allah swt dan RasulNya bagi siapa saja yang masih melibatkan dirinya dengan aktivitas riba. Lalu, setelah membaca ayat-ayat dan hadits-hadits ini, masihkah kita tetap ngotot untuk tetap mengubangkan diri dengan aktivitas riba?

Kesimpulan

Dari seluruh penjelasan di atas bisa disimpulkan:

1. Kata adl’aaf mudlaa’ah yang terdapat di dalam surat Ali Imron:130 bukan sebagai pentakhshish hukum yang terkandung di dalam nash; yakni larangan memakan riba secara mutlak. Kata adl’aafah mudlaa’afah pada ayat di atas hanya berfungsi untuk menjelaskan keadaan (li bayaan al-haal), sehingga tidak bisa mentakhshish. Dalam kondisi seperti ini, mafhum mukhalafah tidak bisa diberlakukan di dalam surat Ali Imron:31 di atas. Walhasil, riba yang dikonsumsi baik berlipat ganda maupun tidak adalah haram tanpa perlu takwil.

2. Kata “adl’af mudla’af”, sebagaimana pemahaman ahli-ahli tafsir ternama, ahli hadits, dan fuqaha, termasuk dalam makhraj al-ghaalib, sehingga mafhumnya tidak bisa dipakai.

[Ustadz. Syamsuddin Ramadhan]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s