Kebolehan Memandang Aurat Wanita Yang Ingin Dinikahi Akan Tetapi Tanpa Izin Darinya

Kaum muslimin pada hari ini tengah dikepung oleh berbagai keburukan dari segala penjuru tersebab lenyapnya Khilafah mereka. Pergaulan pria-wanita begitu bebas. Aurat wanita tiada lagi batasannya. Ia sudah menjadi tontonan bagi siapa saja.

Pada saat yang sama kaum pria pun tak lagi memiliki jati diri untuk menghindarinya. Bahkan untuk mengenyahkan pandangan terhadap aurat wanita. Ia senantiasa menghiasi pandangan mata meskipun mereka telah berusaha untuk tidak melihatnya.

Disaat Islam diterapkan secara kaffah pada massa Rasulullah saw. di Madinah hingga akhir Kekhilafaan Turki Ustmani, wanita terjaga baik pakaian maupun kehormatannya. Kaum wanita tidak boleh menampakkan auratnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan kepada selain mahram dan orang-orang tertentu tanpa terkecuali (QS an-Nur [24]: 31).

Jika seorang lelaki ingin menikahi seorang wanita, maka ia boleh melihat anggota badan wanita yang mubah untuk dilihat (wajah dan kedua telapak tangan), baik dengan izin wanita itu ataupun tidak. Dan lebih dari itu, ia pun boleh melihat selain wajah dan kedua telapak tangan dalam rangka meminangnya, akan tetapi tanpa izin wanita itu atau tanpa sepengetahuannya baik atas izin walinya ataupun tidak. Pandangan itu membolehkan untuk tidak menundukkan pandangan terhadap wanita yang akan dikhitbahnya dengan serius.

Dalil Kebolehan Memandang Aurat Wanita Yang Ingin Dinikahi (Selain Wajah dan Kedua Telapak Tangan)

Dalilnya adalah hadits Jabir ra., ia berkata, Rasulullah saw bersabda:

«إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ فَإِنْ اِسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوْهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ. قَالَ: فَخَطَبْتُ اِمْرَأَةً فَكُنْتُ أَتَخَبَأُ لَهَا حَتَّى رَأَيْتُ مِنْهَا مَا دَعَانِيْ إِلَى نِكَاحِهَا فَتَزَوَّجْتُهَا »

Jika salah seorang diantara kamu meminang seorang wanita maka jika ia mampu untuk melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka hendaklah ia lakukan. Jabir berkata: lalu aku meminang seorang wanita dan aku bersembunyi untuknya hingga aku melihat darinya apa yang mendorongku untuk menikahinya lalu aku pun menikahinya (HR al-Hakim dan ia berkata shahih menurut syarat Muslim)

Hadits ini menunjukkan :

1. Kebolehan peminang (khotip) untuk melihat anggota badan wanita selain yang mubah dilihat (wajah dan kedua telapak tangan) dengan bersembunyi, dan bukan hanya memandang yang mubah saja. Sebab, anggota badan yang mubah dilihat memang terbuka baik bagi peminang ataupun orang lain (bukan peminang). Hal ini sesuai dengan kalimat “jika ia mampu”, “maka aku bersembunyi untuknya”. Begitu pula kebolehan memandang wajah dan kedua telapak tangan bersifat umum mencakup peminang maupun orang yang lain. Maka nash terkait pandangan peminang tersebut, tidak memiliki makna kecuali pandangan itu untuk selain wajah dan kedua telapak tangan.

Batasan aurat yang boleh dilihat oleh peminang (khotip) adalah bagian tubuh yang biasa tampak ketika wanita berpakaian sehari-hari (mihnah) di dalam kehidupan khususnya (di dalam rumah).

2. Pandangan peminang (khotip) kepada selain wajah dan kedua telapak tangan itu adalah tanpa izin wanita tersebut. Hal itu ditunjukkan dengan dilâlah –penunjukkan- lafazh “jika ia mampu”, “maka aku bersembunyi untuknya”. Jika dengan izinnya atau sepengetahuan wanita itu, berarti ada kesengajaan dari wanita untuk memperlihatkan auratnya kepada lelaki asing. Dan sungguh tidak ada pengecualian bagi seorang wanita untuk menampakkan auratnya kecuali kepada orang-orang tertentu saja, dan peminang (khotip) tidak termasuk di antara mereka itu. Allah Swt. berfirman :

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ …

dan janganlah mereka (para wanita) menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka … (QS. an-Nur [24]: 31)

3. Pandangan peminang (khotip) itu dikecualikan dari ayat:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ…

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka … (QS. an-Nur [24]: 30)

Hadits tersebut memperbolehkan peminang untuk mengarahkan pandangannya kepada wanita yang ingin dipinangnya. Artinya, ia boleh untuk tidak menundukkan pandangannya dari wanita tersebut. Sehingga dengan ini akan semakin mendorongnya untuk menikahi wanita itu.

Hanya saja, peminang (khotip) tidak boleh berkhalwat (berdua-duaan) dengan wanita yang ingin dipinangnya. Karena Rasul saw tidak mengecualikan peminang (khotip) dari pengharaman berkhalwat yang dinyatakan di dalam hadits yang mulia:

«لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِاِمْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا اَلشَّيْطَانُ»

Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (berkhalwat) dengan seorang wanita kecuali wanita itu disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiga dari keduanya adalah setan. (HR Muslim dari jalur Ibn Abbas). [Novita Aryani M.Noer]

Wallahu a’lam bi al-shawab

Bahan bacaan :

Kitab an-Nidzam al-Ijtimaa’iy, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani
Nasyroh Tanya Jawab an-Nidzam al-Ijtimaa’iy, Sheikh Ata ibn Khaleel al-Rashta

3 responses to “Kebolehan Memandang Aurat Wanita Yang Ingin Dinikahi Akan Tetapi Tanpa Izin Darinya

  1. Subhanallah…
    Begitu terjaganya wanita di dalam Islam
    Tak ada pengecualian bolehnya membuka aurat kepada lelaki asing dan peminang termasuk salah satunya…

  2. boleh dong dikirimkan nasyrohnya tanya jawabnya…masalahnya ada yg msh bingung ttg bolehnya melihat wanita bg pria yg ingin menikah, berarti sebelum khitbah kan ya?pdhl khitbah belum pasti diterima, trus si pria dah telanjur melihat, trus gimana?jzk khairn sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s