HUKUM WANITA NAIK OJEK

Ojek Motor

Peran angkutan umum sangat lah penting bagi kehidupan masyarakat, karena bagaimanapun pastilah ada sekelompok masyarakat yang tergantung pada angkutan umum untuk memenuhi kebutuhan mobilitasnya dengan alasan tidak dapat menggunakan kendaraan pribadi, baik karena alasan fisik (anak-anak, orang tua, sakit), alasan legal (tidak memiliki SIM) atau alasan finansial (tidak memiliki kendaraan pribadi). Dewasa ini masyarakat cendrung memilih angkutan yang fleksibel dan cepat untuk mencapai tujuan walaupun harus mengeluarkan ongkos yang lebih besar. Angkutan alternatif yang dipilih masyarakat salah satunya adalah angkutan ojek. Ojek mempunyai kompatibilitas tinggi dalam melayani berbagai sudut permukiman di kota-kota maupun di daerah yang terisolasi dari pelayanan angkutan umum.

Di Indonesia ojek atau ojeg adalah transportasi umum informal berupa sepeda motor atau sepeda, namun lebih lazim berupa sepeda motor. Disebut informal karena keberadaannya tidak diakui pemerintah dan tidak ada izin untuk pengoperasiannya. Penumpang biasanya satu orang namun kadang bisa berdua. Dengan harga yang ditentukan terlebih dahulu dengan tawar menawar dengan sopirnya (tukang ojek), setelah itu tukang ojek akan mengantar ke tujuan yang diinginkan penumpangnya.

Ojek dinilai banyak memberikan keuntungan bagi golongan masyarakat tertentu yang bersifat rutin maupun berkala dalam menunjang mobilitas mereka. Keuntungan lain dari sarana ini lebih disebabkan karena lingkup pelayanan ojek tidak dibatasi oleh rute-rute tertentu seperti angkutan umum lainnya. Biasanya ojek mangkal di persimpangan jalan yang ramai, atau di jalan masuk kawasan permukiman. Selain lebih cepat dan dapat melewati gang-gang yang sempit dan sulit dilalui oleh mobil, ojek mampu memberikan pelayanan yang bersifat dari pintu ke pintu atau dapat mengantar hingga sampai ke rumah.

Pangkalan Ojek

Perintah Allah SWT. Untuk Terikat Dengan HukumNya

Kalau dilihat dari segi keuntungan, ojek sangatlah membantu. Namun sebagai seorang muslim sebelum melakukan suatu perbuatan diperintahkan untuk mengetahui dan melakukan amal perbuatannya sesuai dengan hukum-hukum Allah, karena wajib atas seorang muslim untuk menyesuaikan perbuatannya dengan segala perintah dan larangan Allah SWT. yang telah dibawa oleh Rasulullah saw. Bukan atas dasar tolak ukur adanya kepentingan dan mashlahat. Allah SWT. befirman:

”…Apa saja yang dibawa/diperintahkan oleh rasul (berupa hukum) kepadamu maka terimalah dia. Dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” (QS. Al-Hasyr [59]: 7)

Sehingga sebagai seorang muslim yang terikat dengan aturan Allah, berusaha mencari tahu terlebih dahulu bagaimana sesungguhnya memanfaatkan jasa ojek ini? Bagaimana hukum syara’ memandang jika tukang ojek (dimana pekerjaan ini telah menjadi profesinya untuk mencari nafkah) memboncengi wanita bukan mahramnya, di atas kendaraan yang sama atau di atas ojek tersebut?

Hukum Wanita Naik Ojek

Becak Motor Aceh

Jika kendaraan tersebut diatasnya menggunakan, seperti pelana (semacam tempat duduk tersendiri, dengan pegangannya), atau yang sejenis, dimana kalau wanita tersebut naik dibelakangnya, dia tidak akan menyentuh pemboncengnya, dan rute perjalanannya di dalam kota, dengan kata lain tidak melintasi kawasan terpencil, maka hukumnya boleh jika memenuhi dua syarat ini : (1) wanita tersebut naik di belakangnya sementara dia tidak menyentuh pemboncengnya, dan (2) tidak membawanya, kecuali pada rute dimana mata orang bisa memandangnya.

Unta

Alasannya karena Rasulullah SAW, pernah membawa Asma’ ra (adik ipar nabi) di Madinah, tatkala dia memikul beban yang berat di atas kepalanya. Maka, rasulullah saw, hendak menundukkan untanya agar bisa dinaiki Asma’, namun Asma’ lebih suka melanjutkan perjalannya dengan tidak menaiki (unta Nabi). Sudah lazim diketahui, bahwa di atas unta ada punuk, dimana yang pertama bisa dinaiki seseorang, setelah itu berikutnya bisa dinaiki di belakangnya, sementara orang yang kedua tidak harus menyentuh orang yang pertama. Punuk tadi ada diantara kedua orang tersebut. Orang yang kedua pun bisa memegang punuk tadi sesuka hatinya. Dengan kata lain, unta itu merupakan kendaraan yang memungkinkan untuk dinaiki dua orang, dimana satu sama lain tidak harus saling berpegangan.

Al Bukhari telah mengeluarkan dari Asma’ binti Abu Bakar, berkata :

Saya pernah membawa benih dari tanah az-Zubair (suami saya), yang telah diberikan oleh Rasulullah saw, dipanggul di atas kepala saya … sampai pernyataan beliau : Kemudian, Rasulullah saw berkata : “Ikh, ikh agar beliau bisa membonceng saya di belakang, tetapi saya merasa malu …
Ikh ikh maksudnya, belau ingin merundukkan untanya (supaya bisa dinaiki Asma’ di belakangnya).

Karena itu, jika bagian punggung kendaraan tersebut memang siap untuk dinaiki dua orang, tanpa harus bersentuhan satu sama lain, sementara rute perjalanannya bukan dikawasan sepi (terpencil), maka hal itu boleh (mubah). Tetapi, jika tidak( memenuhi dua syarat tersebut ), maka tidak boleh (haram).

Sehingga bisa ditarik kesimpulan, bahwa kendaraan ( yang dimaksud, yaitu ojek), yang ada wanita di atasnya, di belakang lelaki (bukan mahram) tersebut jelas tidak demikian. Ojek tidak mempunyai sekat pemisah langsung. Artinya, diatas punggungnya tidak ada sesuatu yang bisa dinaiki dua orang, sementara satu sama lain tidak saling menyentuh. Karena itu, dalam konteks seperti ini hukumnya tidak boleh (haram). Namun, kalau tukang ojek ingin membonceng di belakangnya, hendaknya membonceng dari kaum laki-laki saja, atau membawa kaum wanita tersebut dengan mengendarai kendaraan seperti motor tossa yang di belakangnya ada gerobak pengangkut, atau becak motor Aceh, becak motor Gorontalo, bentor Medan dan sejenisnya, sementara pria pengendaranya (si sopir) membawa mereka. Bukan dengan wanita tersebut naik di belakangnya (ojek) dan memegang ( tubuh pengemudinya ), maka ini hukumnya tidak boleh (haram).

Becak Motor Gorontalo

Bajaj

Sungguh, seluruh perbuatan kita sebagai manusia akan ditanyai oleh Allah SWT. Apakah sesuai dengan aturanNya ataukah tidak dan itu semua akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat. Sebagai seorang muslim yang sadar dengan ketidakmampuannya menahan siksa dari Sang Maha Penghisab Allah SWT akan terus berupaya mentaati segala aturanNya. Sehingga bagaimana mungkin manusia membuat aturannya sendiri sementara pertangungjawaban bukanlah kepada manusia melainkan kepada Allah SWT. [NTa]

Wallahu A’lam…

4 responses to “HUKUM WANITA NAIK OJEK

  1. Sama-sama mas Dede, terima kasih juga sudah mampir ke blog kami…:)

    Benar sekali mas, ketika seorang Muslim sudah mengetahui suatu hukum, maka ia akan berusaha untuk melaksanakan perintah dari Sang Maha Pembuat Perintah, Allah Swt. Baik senang atau pun susah ia rasakan, namun ia akan jalankan dalam sepenuh ikhlas demi ketundukan pada RabbNya. Karena ia sadar bahwa ia hanyalah manusia yang lemah dihadapanNya. Allah Swt. berfirman:

    “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (QS. an-Nur [24]: 51-52)

    Seperti halnya ketika sudah mengetahui bahwa tidak bolehnya bagi seorang wanita untuk naik ojek, maka ia akan segera melaksanakan apa yang Allah dan RasulNya perintahkan walau serasa berat namun sungguh ia tahu Allah tidak diam dan tidur dan akan memberikan balasan kepadanya kelak di akherat dengan apa yang ia perbuat.

    Selain itu ia pun berusaha menyampaikan pula apa-apa yang ia pahami bagi saudara-saudaranya yang lain agar memahami hal yang sama dengannya. Itulah tanda cinta kepada sesama Muslim. Karena itu pula salah satu kewajiban kita untuk saling amar ma’ruf nahi munkar.

    Sesungguhnya masalah ini tidaklah berdiri sendiri, ia muncul karena jauhnya kaum Muslim dari agamanya ditambah sistem Demokrasi Kapitalis Sekuler yang diterapkan saat ini telah banyak memunculkan permasalahan hidup yang tak jelas penyelesaiannya. Al-Quran telah menyatakan hal ini dengan sangat jelas:

    “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. al-Maaidah [5]: 50)

    Dalam tataran individu, jika kita mempunyai kemampuan untuk memiliki kendaraan sendiri dan bisa mengendarainya pula, tentu sedikit banyak membantu atau meminta mahrom atau sesama wanita untuk mengantarkan jika wanita tsb tidak bisa mengendarai motor. Atau bisa juga jika memang si wanita mampu mengendarai sendiri
    kendaraan bermotor tsb, ia bisa meminta dua ojek sekaligus, satu untuk ia bawa sendiri dan satunya lagi untuk tukang ojek tsb walaupun ada ongkos lebih yang harus ia keluarkan demi mencegah dirinya berboncengan dengan lelaki asing yang bukanlah mahromnya.

    Namun tentu tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk memiliki kendaraan pribadi dan atau memiliki kemampuan untuk mengendarai kendaran bermotor. Sehingga hal ini juga harus dipahami oleh masyarakat khususnya tukang ojek dan pengusaha angkutan umum agar hendaknya mereka membuat atau memodifikasi kendaraan menjadi ojek motor seperti ojek motor Aceh dan sejenisnya.

    Lebih dari itu sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk menyediakan angkutan umum yang aman, nyaman, dan sesuai tuntutan syara’ sekaligus juga menyediakan jalan-jalan yang dapat dengan mudah dilalui oleh berbagai kendaraan sehingga memudahkan aktivitas masyarakat.

    Tentu kondisi ideal tak kan dapat kita harapkan di dalam sistem kufur Demokrasi yang diterapkan saat sekarang ini. Jika pun ada solusi, hanyalah solusi-solusi tambal sulam yang malah memunculkan masalah-masalah baru. Lagi-lagi rakyat menjadi korban. Sudah saatnya kita merindukan dan ikut memperjuangkan kembalinya
    hukum-hukum Allah agar diterapkan secara kaffah dalam sebuah sistem pemerintahan global Khilafah Islamiyah yang akan mensejahterakan rakyatnya.

    Transportasi merupakan salah satu kebutuhan vital rakyat selain kebutuhan pokok(sandang, pangan, papan), pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Sehingga kebutuhan-kebutuhan ini akan diberikan Khilafah kepada rakyatnya dengan biaya murah bahkan bisa gratis. Sebab, kekayaan alam seperti emas, minyak, gas, hutan adalah milik umum yang hasilnya diberikan kepada rakyat.

    Jika hal ini belum terwujud sepenuhnya, maka ia akan ikut serta memperjuangkan kembalinya Khilafah Islamiyah sembari tetap sabar dan ikhlas untuk berjalan kaki demi menjauhkan dirinya dari kemaksiatan kepada Allah Swt. Sungguh taklah jadi soal baginya untuk berjalan kaki, karena cucuran keringat yang mengalir akan menjadi saksi kelak baginya di akhirat atas ketundukannya kepada hukum Allah Yang Maha Adil.

    Wallahu a’lam…

  2. Assalamu’alaikum…

    Afwan mba, klo naik ojeknya biar nggak bersentuhan dgn tukang ojek lalu dikasih pembatas seperti tas atau anak kecil gimana? Boleh tidak mba?

    Jazakillah khair atas jawabannya…

  3. Wa’alaikumssalam wr.wb…

    Salam kenal salam ukhuwah buat ukhty Zi…^_^

    Memang klo dipikir-pikir bisa saja jika ingin praktis seperti itu, meletakkan pembatas seperti tas atau anak kecil dibagian tengah ojek sehingga wanita tidak bersentuhan dengan si tukang ojek. Namun, ketika ingin melakukan kepraktisan tersebut tetap kita harus mencari tahu terlebih dahulu apakah syara’ membolehkan hal tersebut ataukah tidak…

    Untuk pembatas yang dimaksudkan dalam hadist dari Asma’ di atas adalah pembatas yang bersifat permanen. Kita ketahui bahwa Unta memili punuk di atasnya. Punuk ini adalah pembatas yang bersifat permanen. Jika dikondisikan dengan keadaan sekarang hal ini bisa disamakan dengan becak motor Aceh dan sejenisnya yang memiliki pembatas permanen.Sementara ojek motor tidak memiliki pembatas yang nyata/permanen. Sehingga pembatas seperti tas atau anak kecil tidak bisa dikatakan sebagai pembatas.

    Wallahu a’lam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s