Merajut Ukhuwah Merangkai Indahnya Peradaban Cinta

Entah dari mana akan kumulai menyusun satu demi satu kata menjadi untaian kalimat yang indah. Malam yang kian larut. Keheningan yang kian memuncak. Menyisakan kerinduan di sudut hati. Rindu kepada kalian sahabat, yang tak surut langkah terus berjuang untuk tegakkan kembali sebuah janji. Janji dari Sang Maha Penebus janji. Kuyakin, inilah yang membuat kita kian semakin dekat.

Mungkin hal ini pernah kita rasakan. Memiliki teman atau sahabat. Ada keinginan dalam hati untuk diperhatikan, disayang bahkan ingin diperlakukan istimewa. Namun disaat sahabat dekat dengan seseorang teman…Cemburu kan segera hadir tanpa permisi untuk mengusik hati.

Itu juga yang pernah dirasakan oleh seorang Sahabat Rasul. Dialah ‘Amr ibn al-Ash. Siapa tak kenal silat lidahnya yang menjadi senjata amat mematikan dalam menikam dakwah Rasulullah saw. Namun siapa sangka jika hidayah telah menyapa dirinya, setelah hari Hudaibiyah yang amat mencekam itu. Bersama Khalid ibn Walid dan Utsman ibn Thalhah mereka bergerak menuju Madinah untuk mendatangi Rasul agar Islam menjadi pengganti kekafiran mereka.

Tak mereka sangka dan fikirkan sebelumnya, hadirnya mereka disambut hangat oleh Sang Nabi seperti saudara yang pergi merantau dan telah lama tak bersua. Dilayani, dimuliakan, diistimewakan sebegitu rupa. Subhanallah.

Apa yang kita rasakan jika hal itu terjadi pada kita? Senang dan bahagia tak terkira karena diperlakukan istimewa. Itulah yang dirasakan ‘Amr ibn al-Ash. Ia merasa dirinya amat spesial bagi Sang Nabi. Hingga disuatu saat ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Beliau. Kala itu ia dan Sang Nabi tengah menunggangi kuda. Dengan penuh rasa percaya diri ia mendekati kuda tunggangan Sang Nabi. Sambil berbisik ia pun bertanya…

“Siapakah yang paling engkau Cintai ya Rasul?”
Rasul dengan seksama menjawab… “Aisyah!”
“Maksud saya dari kalangan laki-laki ya Rasul…!?” ‘Amr menegaskan.
Sambil tersenyum Rasul menjawab… “Ayahnya Aisyah”
…”lalu siapa lagi?” Kembali ‘Amr bertanya.
“Umar”…
“Siapa lagi Rasul?” Tanya ‘Amr penasaran…
“Utsman”…

Pertanyaan terhenti. Tak ingin ia lanjutkan, karena ‘Amr khawatir dan takut jika namanya berada diurutan paling belakang.

Akhirnya dilain hari ‘Amr berbincang dengan sahabatnya Khalid dan Utsman. Diakhir perbincangan semakin ia terpesona dan takjub dengan sosok Sang Nabi. Sebab Beliau saw. adalah tipe manusia yang siapa saja ada di dekatnya akan merasa paling dicinta, paling istimewa, paling spesial, bahkan paling berharga.

Itulah Sang Nabi, jauh dari berkata yang tidak benar. Perkataannya penuh kejujuran dalam ketulusan. Subhanallah.

Ini menjadi telisik pembelajaran buat kita umatnya. Karena Rasulullah saw. merupakan tauladan yang sesungguhnya dalam merajut tali ukhuwah hingga terikat kuat dalam sanubari-sanubari para sahabat.

Dia bawa kecintaan pada diri sendiri berhijrah menuju cinta sesama yang memancarkan Peradaban Cinta. Ialah Sang Nabi namanya dipuji di langit dan di bumi, pencipta ukhuwah perajut persaudaraan sekaligus sebagai pribadi penyampai, penyampai kebenaran Islam.

Terlintas di benakku…
Adakah ukhuwah ini seindah rajutan kasih Sang Nabi dan Para Sahabat???

Akankah jarak nan jauh menjadi penghalang derasnya kasih perajut ukhuwah di antara kita???

Sungguh…ia bukan penghalang, namun ia menjadi perekat dan pengikat hati dalam asma-Nya.

Ukhuwah sejati dalam dekapan ukhuwah hanya kan terajut dari diri yang beriman.

“Siapapun tidak akan merasakan manisnya iman,” begitu Rasul katakan, “hingga ia mencintai seseorang tidak karena yang lain kecuali karena Allah semata.” Seperti itulah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari.

“Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia menyayangi saudaranya seperti menyayangi dirinya sendiri.” Itu juga yang Rasul pesankan seperti yang ditulis oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.

Kita tahu bahwa iman merupakan itikad kalbu terajut dalam amal dengan perbuatan. Namun apa yang di hati bisa tersembunyi, lisan bisa berdusta dan amal bisa direkayasa. Karena itulah Allah SWT menguraikan banyak ukuran iman agar tiada dusta diantara kita.

Seperti yang diriwayatkan oleh Muslim…
“Al-muslim man salimal-muslimuuna min lisaanihi wa yadihi.”

Rasul berpesan…supaya kita selalu menjaga mereka dari gangguan lisan dan tangan kita. Karena itulah batas terendah dalam dekapan ukhuwah.

“Man kaana yu’ minu billaahi walyaumil aakhiri fal-yaqul khairan aw liyasmut.”

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik-baik atau jika tidak diam.” Begitu kata Sang Nabi yang dicatat dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

Beliau juga bersabda…”Jangan kalian saling mendengki dan jangan saling membelakangi karena permusuhan dalam hati.Tetaplah jadi hamba-hamba Allah yang bersaudara.” al-Bukhari dalam shahihnya.

Ukhuwah sejati dalam dekapan ukhuwah meminta kita untuk mengambil Cinta dari langit dan menaburnya di bumi.Sungguh…di Taman Surga kan ada menara-menara cahaya yang menjulang untuk hati yang saling mencinta.

Mu’adz pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda…

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman. “Orang-orang yang saling mencintai karena keAgungan-Ku, mereka akan mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya. Para Nabi dan Syuhada pun tertarik oleh mereka.” Seperti itulah yang dicatat oleh at-Tarmidzi.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahiim
Jika umurku terhenti disini…
Izinkanku ya Rabb,
Untuk menaiki menara-menara cahaya itu bersama mereka,
Mereka yang kucintai karena keAgungan-Mu.

Marilah kita bangun menara itu
dalam dekapan ukhuwah sejati…
sebening prasangka,
sepeka nurani,
sehangat semangat,
senikmat berbagi,
sekeras tekat,
sekokoh janji,
selembut sapaan,
dan sesejuk tatapan dalam senyuman.

Karena kalian adalah cerminku.
Bercermin untuk mengenali diri.
Untuk memperbaiki diri bukan untuk takjub pada bayang-bayang sendiri.
Atau malah menyalahkan sang cermin.

“Mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang lain.” Itulah Sang Nabi sampaikan.

Selamat datang Cinta

Kudekap kalian dalam hangatnya ukhuwah.
Mana tanganmu,
Ini tanganku.
Genggam tanganku,
Kugenggam tanganmu.
Melangkah kita bersama,
Menyongsong Cahaya itu,
Cahaya yang telah dijanjikanNya,
Syariah wal Khilafah
Kan kembali terangi Jagat Raya…


Maafkan atas lisan dan sikapku,
bila telah mengecewakanmu…

Sungguh…Aku mencintai kalian karena Allah…

~ NoviTa Aryani M-Noer ~

2 responses to “Merajut Ukhuwah Merangkai Indahnya Peradaban Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s