~Seputar Riya dan Tasmi’ ~

Riya adalah menginginkan keridhaan manusia ketika melakukan aktivitas taqarub ilallah. perkara riya adalah perkara aktivitas hati, bukan termasuk ke dalam perkara lisan dan anggota badan lainnya. hakikat dari riya adalah tujuan dari perbuatan dan perkataan. jadi, ada didalam riya terjadi pengalihan tujuan taqarub yang sejatinya ditujukan kepada Allah semata menjadi karena manusia. oleh karena itu, perkataan dan perbuatan bukanlah riya itu sendiri, melainkan tempat adanya riya. sedangkan riya itu sendiri adalah tujuan dari taqarub, bukan yang dituju, ketika yang di tuju adalah keridhaan manusia. apabila tujuan taqarub itu suatu taqarub berserikat antara Allah dan manusia, maka taqarub seperti ini adalah haram. lebih parah lagi dari hal ini, jika taqarub itu murni ditujukan untuk manusia, bukan untuk Allah.

Adapun tasmi’ adalah menceritakan aktivitas taqarub kepada manusia untuk memperoleh keridhaan mereka. perbedaan antara riya dan tasmi’ (sum’ah) adalah riya itu menyertai suatu amal, sedangkan tasmi’ adalah setelah beramal.

riya tidak bisa diketahui oleh orang lain, keculai oleh manusia dan Allah saja, dan tidak ada cara bagi orang lain untuk mengetahuinya. bahkan orang yang riya sekalipun terkadang tidak tahu kalo ia sedang riya, kecuali jika ia berubah untuk menjadi IKHLAS.

Imam Nawawi telah meriwayatkan dalam al-majmu’ dari asy-Syafi’i, beliau berkata, ” Tidak akan mengetahui riya kecuali orang yang ikhlas.” Ikhlas itu membutuhkan perhatian yang serius dan kesungguhan jiwa. Tidak akan mampu berbuat ikhlas kecuali uang yang telah memisahkan diri dari dunia.

tasmi’ bisa terjadi ada pada taqarub yang dilakukan secara sembuyi-sembunyi seperti orang yang sholat malam, dan di pagi harinya ia menceritakan taqarubnya itu kepada orang lain. tasmi’ pun bisa terjadi pada taqarub yang terang-terangan di suatu tempat, kemudian diceritakan kepada orang lain yang ada ditempat lain. semua itu dilakukan untuk mencari keridhaan manusia.

Diantara pelajaran terbaik yang diajarkan kepada kita adalah dari pelajaran dari generasi terbaik islam yakni para sahabat Rasulullah saw dan upaya mereka untuk mejauhkan diri dari sifat tasmi’. sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abu Yusuf dalam kitab al Atsar dari Abu Hanifah dari Ali bin al -Aqmar, bahwa Umar bin al-Khattab pernah lewat kepada seorang laki-laki yang sedang makan dengan tangan kirinya. Umar saat itu berdiri dan menghadap para sahabat yang sedang makan. Maka Umar berkata kepada Lelaki itu, “Wahai hamba Allah, makanlah dengan tangan kananmu!” Laki-laki itu menjawab, “Tangan kananku ‘sibuk’”. Kemudian Umar menghampiri kedua dan ketiga kalinya tapi laki-laki itu tetap makan dengan kirinya dan berkata seperti tadi. kemudian Umar berkata, “Sibuk dengan apa?” laki-laki itu berkata, “Tangan kananku terputus pada perang Mu’tah”. Maka Umar pun terkejut mendengar jawaban itu. Kemudian berkata, “Lalu siapa yang mencuci pakaianmu? Siapa yang meminyaki rambutmu? Siapa yang melayanimu?”. Ali bin Akmar berkata, “Kemudian Umar menyiapkan kebutuhannya. Umar memerintahkan agar ia diberi seorang budak, satu tunggangan beserta makanan dan nafkahnya.” Para sahabat berkata, “Umar telah memberikan balasan kebaikan kepada rakyatnya.”

juga hadist yang diriwaytkab oleh al Bukhari dari Abu Musa yang berkata, ” Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw. pada suatu peperangan. Pada saat itu jumlah kami ada 6 orang. Diantara kami hanya ada satu unta yang dinaiki secara bergantian, hingga kakiku pecah-pecah dan kukuku pun terkelupas. Pada saat itu kami membalut kaki kami. Abu Musa menceritakan hal ini, kemudian ia tidak menyukainya. ia berkata, “Kami berbuat bukan untuk diceritakan.” Seolah-olah Abu Musa tidak suka sedikipun amalnya disebarkan.

Riya dan Tasmi’ jelas diharamkan, tanpa ada perbedaan pendapat tentangnya. dalinya sangat banyak, diantaranya :

Maka siapa saja yang berharap bertemu Tuhannya maka hendaklah beramal amalan yang shalih dan tidak menyekutukan (Allah) dalam melakukan ibadah kepada-Nya

(Q.S. al-Kahfi [18]: 110).

Rasulullah bersabda, “barang siapa ingin didengar amalnya, maka Allah akan memperdengarkan amalnya kepada manusia. barang siapa ingin dilihat amalnya, maka Allah akan memperlihatkan amalnya kepada manusia. (lafadz dari al-Bukhari).

Hadist Abu Hindi ad-Dari riwayat baihaqi, ath-Thabrani, dan Ahmad dengan redaksi dari Imam Ahmad, sesungguhnya Abu Hindi mendengar Rasulullah saw bersabda :

“Barangsiapa yang melaksanakan suatu amal dengan riya dan sum’ah, maka Allah akan memperlihatkan dan memperdengarakan amal itu di hari kiamat. (al-Mundziri berkata, “Sanadnya baik.” a;-Haitsami berkata, “Perawi Ahmad, al-Bazzar, dan salah satu sanad at-Thabrani adalah para perawi yang shahih”).

ada hadist yang cukup panjang mengenai riya ini. mari kita simak :

Hadist Abu Hurairah diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasa’i ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda :

“Yang pertama kali akan diadili dihari kiamat adalah orang yang mati syahid. Kemudian ia dibawa kehadapan Allah, dan Allah memberitahukan kenikmatan kepadanya, maka ia pun mengetahuinya. Allah berfirman, “Apa yang engkau lakukan di dunia?” Orang itu berkata, “Aku telah berperang karena-Mu hingga aku syahid.” Allah berfirman, “Engkau dusta. Sebenarnya engkau berperang karena ingin dikatakan sebagai pemberani dan hal itu telah dikatakannya.” Kemudian Allah Swt memerintahkan untuk membawanya, maka orang itu diseret di atas wajahnya hingga ke neraka.

Kemudian orang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu serta membaca al qur’an. lalu ia dibawa ke hadapan Allah, dan Allah memberitahukan kenikmatan kepadanya, maka ia pun mengetahuinya. Allah berfirman, “Apa yang engkau lakukan di dunia?” Orang itu berkata, “Aku telah mempelajari Ilmu dan mengajarkannya, aku pun membaca al qur’an karena-Mu. Allah berfirman, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu karena ingin dikatakan sebagai orang alim. Kamu membaca al-Qur’an karena kamu ingin dikatakan sebagai Qari, dan semua itu telah dikatakannya.” Maka orang itu diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke neraka.

Kemudian orang yang diberi keluasaan oleh Allah dan diberi karunia bermacam-macam harta. Lalu ia dibawa kehadapan Allah dan Allah memberitahukan kenikmatan kepadanya, maka ia pun mengetahuinya. Allah berfirman, “Apa yang engkau lakukan di dunia?” Orang itu berkata, “Tidak ada satu jalanpun yang Engkau sukai untuk berinfak di jalan itu kecuali aku menginfakan hartaku karena-Mu.” Allah berfirman, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu melakukan itu semua karena ingin dikatakan sebagai dermawan, dan semua itu telah dikatakan.” Kemudian Allah Swt memerintahkan untuk membawanya. Maka orang itu diseret di atas wajahnya hingga dilemparakan ke neraka.

Hadist riwayat Ibnu majah, Baihaqi dan al Hakim, ia berkata, ” hadist ini shahih tidak ada penyakitnya. Dari Zaid bin Aslam, dari bapaknya, bahwa Uamr ra. telah keluar menuju masjid kemudian ia menemukan Muadz sedang menangis dekat kuburan Rasululah saw. Umar berkata, “Apa yang membuatmu menangis?” Muadz berkata, “Aku menangis karena ingat suatu hadist yang pernah aku dengar dari Rasulullah saw, beliau berkata, “Riya yang sedikit itu syirik. barangsiapa yang memusuhi wali-wali Allah, maka ia telah memerangi Allah secara terang-terangan.Sesungguhnya Allah Swt. mencintai orang-orang yang berbuat baik yang bersih hatinya, dan tersembunyi. Jika mereka tidak ada, maka mereka di cari, jika mereka hadir, maka mereka tidak di kenal. hati mereka merupakan pelita-pelita petunjuk, mereka keluar dari setiap debu yang gelap”

jika riya merasuki suatu amal dalam taqarub kepada Allah, maka akan membatalkan amal itu. Artinya, amal itu dipandang seolah-olah tidak ada (tidak pernah dilakukan). dalinya adalah :

Hadist riwayat Abu Hurairah riwayat Muslim, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Allah berfirman.”Aku adalah Dzat yang tidak butuh terhadap perserikatan diantara yang berserikat. Barangsiapa melaksanakan suatu amal, didalamnya ia menyertakan selain-Ku bersama-Ku, maka Aku akan meninggalkan perserikatannya”

tasmi’ berbeda dengan riya dalam hal membatalkan amal. meski keduanya sama-sama diharamkan. ketika Tasmi’ dicampuri riya, maka amal yang seperti ini sudah batal sebelum tasmi. sementara Tasmi’ ini akan membuatnya semakin berdosa, meski Tasmi’ tidak mempengaruhi batal dan tidaknya amal itu.

adakalanya suatu amal dilaksanakan ikhlas karena Allah, sehingga menjadi amal yang baik dan benar. Tapi kemudian orang yang melaksanakan amal tersebut menjadi berdosa karena adanya tasmi’ setelah selesainya amal itu. dosa Tasmi’ ini bisa bisa diistighfari atau ditaubati, sama seperti dosa-dosa yang lain. Jika Allah memberikan ampuna sebelum wafat atau menutupinya sebelum hari kiamat, maka hal ini kebaikan baginya. jika tidak demikian, maka Allah akan meletakan dosa karena Tasmi’ dalam timbangan amalnya dan akan mengurangi kebaikan-kebaikannya. hanya saja, tasmi’ tidak bisa membatalkan amal amal yang dikerjakan dengan ikhlas tadi, berbeda dengan riya yang membatalkan amal tersebut, kenapa? karena dalil-dalil yang menjelaskan tentang tasmi’ hanya menjelaskan seputar keharamannya saja,bukan pembatalan perkara amal.

bagaimana agar kita terhindar dari sifat riya ini?

Rasulullah saw telah mengajarkan kita bagaimana agar terhindar dari sifat ini. Imam Ahmad, ath-Thabrani, dan Abu Ya’la telah mengeluarkan dengan isnad yang hasan, dari Abu Musa al-Asy’ari, ia pernah berkata dalam khutbahnya :

“Wahai manusia, jauhilah syirik ini(riya), karena ia lebih samar dari merayapnya semut. Kemudian Abdullah bin Hazn dan Qais bin al-Mudharib berdiri menghampirinya dan kedua berkata, “Demi Allah, engkau harus menarik kembali ucapanmu itu, atau kami akan mendayangi Umar, baik diizinkan maupun tidak,” Abu Musa berkata, “baik, aku akan tarik kembali perkataanku.” Suatu ketika Rasulullah saw.,khutbah dihadapan kami dan bersabda. “wahai manusia. jauhilah syirik ini, karena sesungguhnya ia lebih samar dari suara merayapnya semut.” Kemudian ada orang yang berkata kepada Rasulullah saw dengan kehendak Allah. “wahai Rasulullah!, bagaimana kita bisa menjaga diri darinya, padahal ia lebih samar dari suara merapanya semut?” Rasulullah saw bersabda, “Ucapkanlah, Ya Allah sungguh kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami kethaui dan kami mohon ampun kepada-mu dari sesuatu yang tidak aku ketahui.”

Bahan bacaan : buku Min Muqawimat Nafsiyah Islamiyah (Pilar-pilar pengokoh nafsiyah Islamiyah) yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir, dari Bab “Orang yang yang paling baik akhlaknya”

Agustus 26, 2010

sumber :http://adivictoria1924.wordpress.com/2010/08/26/seputar-riya-dan-tasmi/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s