~.THE ENDLESS LOVE.~

“Siapa yang ingin merasakan lezatnya iman maka cintailah se-seorang hanya karena Allah semata ” (HR Muslim).

Sesungguhnya Allah SWT berfirman pada hari kiamat : ”mana orang yang saling mencintai karena kebesaran Ku, hari ini Aku akan menaungi mereka pada saat tidak ada naungan selain Naungan-Ku ” (HR muslim).

AISYAH.. Sebuah nama yang sangat indah, indah namanya seindah sejarah yang telah mengukirnya. Aisyah adalah wanita yang agung pribadinya, lembut perasaannya, smart, teduh dan sejuk pandangannya. Mulia hatinya, perkataannya mengandung hikmah bak untaian mutiara yang memancar kemilau cahaya dimana-mana. Wanita yang satu ini memang luar biasa Idola Wanita Sepanjang Masa….
Hari-hari indah bersama kekasih Allah dilalui dengan singkatnya, ketabahan menghiasi kesendiriannya, dia merupakan guru besar bagi setiap wanita di dunia sepanjang masa, Aisyah juga termasuk tokoh intelektual di tahun-tahun pertama Islam, keilmuann dan kecerdasanya tidak ada tandingannya di dalam catatan sejarah Islam. pantaslah bila Aisyah menyandang gelar tertinggi yaitu: Sayyidatina Aisyah Radhiyallahu ‘anha Ummul Mukminin.

=>Wahai Sahabatku yang bertahta di hatiku.. Mari kuajak dirimu tuk membuka lembaran-lembaran sejarah dan rangkaian kisah Aisyah ra. yang tertulis indah dengan tinta emasnya. Sang wanita surga yang dikagumi dunia dan wanita yang pancaran indah putih telapak tangannya terukir di surga. Siapakah Aisyah ra..??? Marilah kita buka sejarah hidupnya..
==========================================
Aisyah ra. adalah putri Abu Bakar ‘Abdillah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay al-Qurasyiyyah at-Taimiyyah al-Makkiyyah. Dia seorang wanita yang cantik dan berkulit putih sehingga mendapat sebutan al-Humaira. Ibunya bernama Ummu Ruman bintu ‘Amir bin ‘Uwaimir bin ‘Abdi Syams bin ‘Attab bin Udzainah al-Kinaniyyah.

Aisyah adalah istri Nabi yang paling dicintai, sekaligus putri dari laki-laki yang paling dicintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah lebih suka memanggilnya “Humaira”. (Si Jelita yang kemerah-merahan pipinya) ‘Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abi Kuhafah berasal dari keturunan mulia suku Quraisy. AISYAH AS-SIDDIQAH wanita surga yang nama dan kisahnya diabadikan dunia. Dialah sosok wanita ahli surga, kemuliaan yang tersimpan dalam dirinya, segudang keistimewaan dan keteladanan menghiasi pribadinya.

Wanita cerdas ini lahir ketika cahaya Islam telah memancar, sekitar 8 tahun sebelum hijrah. Dihabiskan masa kanak-kanaknya dalam lingkungan seorang sahabat yang mulia, Abu Bakar dalam asuhan sang ayah, kekasih Rasulullah ash-Shiddiq. dinikahi oleh Rasulullah SAW bulan Syawal tahun ke-11 dari kenabian di usia 7 tahun, dan memasuki usia rumah tangga Nubuwah di usia 9 tahun. Tidak satu pun di antara istri-istri beliau yang dinikahi dalam keadaan masih gadis kecuali ‘Aisyah. Ia mendiami rumah tangga yang indah 9 tahun lamanya, beliau ditinggal wafat oleh Rasulullah disaat usia 18 tahun. Dialah wanita yang tabah dan Shobrum Jamil yang menghiasi pribadinya.

Aisyah didatangkan oleh Allah di dalam mimpi Rasulullah yang di tampakkan di dalan desah nafasnya. Bahwa Aisyah adalah istrinya di dunia dan akhirat. Dari Aisyah ra. berkata ”Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi SAW sambil membawa rupa Aisyah pada sehelai kain sutra hijau seraya berkata, ”inilah istrimu di dunia dan akhirat” (HR. Bukhari)

Penyampaian yang sangat indah dan menakjubkan, sebuah informasi langsung dari langit Tuhan membawa rupa Aisyah diatas sutra indah kepada nabinya. Sungguh anugrah yang sangat indah. Aisyah ra. meriwayatkan dalam hadisnya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan mimpi beliau kepada ‘Aisyah : ” Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata : ini adalah istrimu. Lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu , lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi dari ‘Aisyah radilayallahu ‘anha) .

Aisyah radhiyallahu ‘anha memulai hari-harinya bersama Rasulullah mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang diliputi suasana Nubuwwah. Rumah kecil yang disamping masjid Nabawi itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu yang hanyalah tikar kulit bersih sabut dan lentera kecil berminyak samin. Di rumah kecil itu terpancar pada diri Ummul Mukminin teladan yang baik bagi istri dan ibu karena ketataatannya pada Allah, rasul dan suaminya. Kepandaian dan kecerdasannya dalam mendampingi suaminya, menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Aisyah menghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedih, menjaga kehormatan diri dan harta suami tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berda’wah di jalan Allah.

CINTA LERUNG JIWA
=============
Aisyah bukan hanya seorang istri Rasul, tapi juga merupakan bintang di langit sejarah. Shohabiyah Zainab binti Jahzy pun ikut memberi kesaksian atas kepribadian Aisyah. Dikala dia ditanya oleh Rasulullah tentang Aisyah, sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah sendiri telah memberikan sebuah kesaksian nyata pada dunia tentang pribadinya.

Diriwayatkan oleh Aisyah r.a, Rasulullah bertanya kepada Zainab binti Jahzy, ” hai Zainab, apa yang engkau ketahui dan yang kau lihat tentang Aisyah ? Zainab berkata : ” ya Rasulullah..! aku menjaga pendengaranku dan penglihatanku, demi Allah..! tidak ada yang aku ketahui pada diri Aisyah kecuali Kebaikan.”

Itulah kesaksiaan nyata tentang kepribadian baik Aisyah yang patut dijadikan uswah atau teladan bagi seluruh wanita muslimah dijagat raya. Terhimpun di dalam dirinya segudang kebaikan, keindahan, kasih sayang, kelembutan, ketaqwaan dan keteladanan serta keutamaan. Kisah cinta yang terus bersinar di relung-relung hati Muhammad SAW seperti sebuah mutiara ini diriwayatkan oleh Bukhari, secara makna, dari Sayyidah ‘Aisyah ra.

Dalam sebuah hadist daripada Aisyah r.a katanya, “Aku sedang duduk bersila di dalam rumah. Tiba-tiba Rasulullah S.A.W datang dan masuk sambil memberi salam kepadaku. Aku segera bangun karena menghormati dan memuliakannya sebagaimana kebiasaanku di waktu baginda masuk ke dalam rumah. Nabi S.A.W bersabda, ” Duduklah di tempat duduk, tidak usahlah berdiri, wahai Ummul Mukminin.” Maka Rasulullah S.A.W duduk sambil meletakkan kepalanya di pangkuanku, lalu baginda berbaring dan tertidur.

Aisyah..Nama yang indah seindah pribadinya, seluruh manusia mengagumi pribadi dan keteladanannya. malaikatpun bangga dan memberi salam kepada Aisyah As-siddiqah. Diriwayatkan dari Aisyah r.a. dia berkata : ” Sesungguhnya malaikat Jibril telah ucapkan salam untukmu”. Maka saya menjawab, “Alaihis salam.” -semoga keselamatan dan rahmad Allah selalu tetap padanya juga. (HR Bukhari dan Muslim).

Wanita yang satu ini memang luar biasa, Surgapun mengukir pancaran putih telapak tangannya. Dialah wanita yang sangat mulia, wanita yang sangat di cinta oleh hamba pilihan tuhan-Nya. Rasulullah bersabda : ” Sesungguhnya aku tidak ada beban ketika aku melihat putihnya telapak tangan Aisyah di surga” (HR. Ahmad)

Di antara istri-istri Rasulullah SAW, Saudah bin Zum’ah sangat memahami keutamaan-keutamaan Aisyah, hingga dia merelakan seluruh malam bagiannya untuk Aisyah. Itulah kemilau keindahan jiwa Aisyah. Surga bangga mengabadikan dirinya.

Aisyah.. Aisyah.. Ummul Mukminin Aisyah..

Kecintaan Rasulullah kepada Aisyah termaktub dalam hadisnya, Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadist dari ‘Amir bin ‘Ash bahwasanya ‘Amir bin ‘Ash sowani Nabi SAW lalu bertanya, Ya, Rasulullaah. Siapa insan paling engkau cintai?” Nabi SAW bersabda, “AISYAH.” ‘Amir bin ‘Ash lalu bertanya, “Siapa laki-laki paling engkau cintai, ya Nabi?” Beliau bersabda, “Bapaknya (maksudnya: Abu Bakar as Shidiq). ‘Amir bin ‘Ash bertanya juga, “Lantas siapa lagi, ya Rasulullaah?” Nabi SAW bersabda, “Umar (maksudnya Ibnu Khatab). Semoga Allah meridhai mereka semuanya.”

Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan : ” Cinta pertama yang terjadi didalam Islam adalah cintanya Rasulullah SAW kepada Aisyah r.a.”

Didalam riwayat Tirmidzi dikisahkan “Bahwa ada seseorang yang menghina Aisyah dihadapan Ammar bin Yasir sehingga Ammar berseru kepadanya,’ ”Sungguh celaka kamu. Kamu telah menyakiti istri kecintaan Rasulullah SAW.”

Sekalipun perasaan cemburu istri-istri Rasulullah SAW terhadap Aisyah sangat besar, mereka tetap menghargai kedudukan Aisyah yang sangat terhormat. Bahkan ketika Aisyah wafat, Ummu Salamah berkata : ” Demi Allah SWT, dia adalah manusia yang paling beliau cintai selain ayahnya (Abu Bakar)’.

Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Inilah gabungan pesona-pesona yang kemudian melahirkan kerinduan. Sebagaimana Ummu Salamah berkata,
” Rasul tidak dapat menahan rindu jika bertemu dengan Aisyah”. Di sinilah seseorang dapat mengatakan, RUMAHKU SURGAKU. Ketika sedang berada di dalamnya, ia menjadi sumber energi untuk berkarya di luar. Ketika berada di luarnya, selalu ada kerinduan untuk kembali.

Aisyah RadhiAllohuanha, pernah bertanya kepad Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam : “Wahai Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan cinta gembalamu?” Beliau menjawab,”Di tempat yang belum dijadikan tempat gembalaan”. (Ditakhrij Muslim) Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain Aisyah.

Para sahabat pun berusaha mendapatkan ridha Rasulullah yang ingin memberikan hadiah kepada beliau, Rasulullah biasa menangguhkannya hingga tiba berada di tempat ‘Aisyah. Pada suatu hari para sahabat mencari Rasulullah di tempat Ummu Salamah dengan membawa hadiah, sehingga Ummu Salamah mengatakan : “Siapapun yang ingin memberikan hadiah, hendaknya memberikannya seperti biasa beliau berada saat itu (yaitu tempat Aisyah)”.

Subhanallah, sebuah keaguangan cinta dari sang Nabinya kepada wanita yang indah namanya seindah keutamaan dan pribadinya. Kecintaan Rasulullah kepada Aisyah Al-Humairah sangat tinggi bertahta, sangat luas seluas samudra dan sangt indah seindah surga didunia, Sehingga siapapun wanita dilarang menyakitinya karena keutamaan tertinggi Aisyah adalah rumahnya adalah rumah wahyu Tuhan.

Aisyah meriwayatkan dalam hadisnya perihal Ummu Salamah menuntut keadilan kepada Rasulullah, mengenai gugatan Ummu Salamah terhadap cinta Rasulullah kepada Aisyah. Ummu Salamah mengungkapkan saat beliau berada di sisinya, namun beliau tidak menjawab sepatah kata pun. datang kepadanya, dan diulanginya permintaan itu setiap kali Rasulullah pun tetap tidak memberikan jawaban. Pada ketiga kalinya Ummu Salamah mengatakan lagi, Beliau menjawab : ” Janganlah engkau menggangguku dalam permasalahan ‘Aisyah, karena sesungguhnya Allah tidak pernah menurunkan wahyu dalam keadaan diriku di dalam selimut salah seorang pun dari kalian kecuali ‘Aisyah.”

Imam Muslim meriwayat juga dari Aisyah r.a. menyatakan Rasulullah bersabda kepadanya (Ummu Salamah) : ” janganlah kau menyakitiku perihal Aisyah, karena tidak ada tempat tidur istri-istriku yang disitu aku menerima wahyu kecuali tempat tidur Aisyah” Sebuah penghargaan yang tinggi bagi Aisyah dari Rasulnya.

Aisyah… Aisyah… Aisyah… pantas dicinta..!!

Banyak kisah-kisah romantis yang menghiasi kehidupan Nabi Muhammad dgn Aisyah. Rasul pernah bermanja berlomba lari dengan Aisyah. Riwayat ini menggambarkan keharmonisan rumah tangga beliau. Sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad. Aisyah radhiyallah ‘anha mengisahkan:
Pada suatu ketika aku ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah lawatan. Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping seksi. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku:
“ya Humairah kemarilah! sekarang kita berlomba lari.” Aku pun meladeninya dan akhirnya aku dapat mengungguli beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hanya tersenyum saja atas keunggulanku tadi. Hingga pada kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah lawatan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Dan akhirnya beliau dapat mengungguliku. Beliau tersenyum seraya berkata: ” Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (HR. Ahmad).

PESONA ROMANTIKA
=============
Selain memiliki berbagai keutamaan dan kemuliaan, ‘Aisyah juga memiliki kekurangan, yakni memiliki sifat gampang cemburu. Bahkan dia termasuk istri Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam yang paling besar rasa cemburunya. Rasa cemburu memang termasuk sifat pembawaan seorang wanita. Namun demikian, perasaan cemburu yang ada pada ‘Aisyah masih berada dalam batas yang wajar dan selalu mendapat bimbingan dari Nabi, sehingga tidak sampai melampaui batas dan tidak sampai menyakiti istri Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam yang lain. satunya disebutkan dalam sebuah riwayat: Dari Aisyah: “Aku tidak cemburu kepada seorang wanita terhadap Rasulullah sebesar cemburuku kepada Khadijah, sebab beliau selalu menyebut namanya dan memujinya.”

Pada hari penaklukan Makkah, beliau memasuki kota Makkah dengan kemenangan dan keberuntungan. Orang-orang Quraisy pun meminta ampunan dari beliau. Saat itu beliau melihat seorang perempuan tua yang datang dari jauh. Beliau segera meninggalkan kerumunan dan mendekati perempuan tua tersebut, lalu berbicara dengannya. Tidak berapa lama, beliau melepaskan mantel beliau dan meletakkannya di atas tanah, lalu duduk bersama perempuan tua itu di atasnya. ‘Aisyah ra. pun menanyakan tentang perempuan tua yang membuat beliau rela memberikan waktu dan bersedia berbicara dengannya pada saat-saat sepeti itu. Maka beliau menjawab : “Ini adalah teman Khadijah.”
‘Aisyah ra. kembali bertanya : “Apa yang kalian bicarakan, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab : “Kami berbicara tentang Khadijah.”
‘Aisyah ra, pun cemburu dan berkata :“Engkau masih mengingat perempuan yang sudah meninggal itu, padahal Allah telah menggantikan dengan yang lebih baik darinya!”
‘Aisyah ra. tidak menyadari bahwa itu sebuah kekeliruan, kecuali setelah nampak kemarahan di raut wajah Rasulullah SAW. Ketika itu pun beliau bersabda : ” Demi Allah, tidak ada yang dapat menggantikannya. Sungguh dia menghiburku saat orang-orang mengusirku dan membenarkanku saat orang-orang mendustakanku”. ‘Aisyah ra. menyadari kemarahan kekasihnya, maka dia segera berkata : ” Maafkan aku, wahai Rasulullah.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan, ‘Aisyah berkata: “ Tatkala pada suatu malam yang Nabi berada di sampingku, beliau mengira aku sudah tidur, maka beliau keluar. Lalu aku (pun) pergi mengikutinya. (Aku menduga beliau pergi ke salah satu isterinya dan aku mengikutinya sehingga beliau sampai di baqi’). Beliau belok, aku pun belok. Beliau berjalan cepat, akhirnya aku mendahuluinya. Lalu beliau bersabda: “Kenapa kamu, hai Aisyah, dadamu berdetak kencang?” Lalu aku mengabarkan maksud kepada beliau kejadian yang sesungguhnya, beliau bersabda: “Apakah kamu mengira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan menzhalimimu?

Cerita yang lain adalah ketika Rasul sedang berada di tempat Aisyah. Di sana juga sedang ada Saudah, istri Rasul yang lain. Aisyah memberikan kue yang dibuatnya kepada Saudah. Tetapi Saudah mengatakan bahwa kue tersebut tidak enak. Aisyah kesal lalu menimpuk Saudah dengan kue tersebut, lalu Saudah membalasnya. jadilah mereka balas-balasan menimpuk dengan kue. Apa yang dilakukan Rasulullah? Ternyata beliau hanya menonton sambil tertawa.

Dari Kemuliaan demi kemuliaan diraihnya dari sisi Allah menurunkan ayat-ayat-Nya. Rombongan itu pun singgah ketika, Aisyah turut dalam perjalanan Rasulullah di suatu tempat. Tiba-tiba ‘Aisyah r.a merasa kalungnya hilang, sementara kalung itu dipinjamnya dari Asma’, kakaknya. Rasulullahpun memerintahkan para sahabat yang turut dalam rombongan itu untuk mencarinya. Terus berlangsung pencarian itu hingga masuk waktu shalat. Akan tetapi ternyata tak ada air di tempat itu sehingga para sahabat pun shalat tanpa wudhu’. Tatkala bertemu dengan Rasulullah, mereka mengeluhkan hal ini kepada beliau. Saat itulah Allah menurunkan ayat-Nya tentang tayammum. Melihat kejadian ini, Usaid bin Hudhair mengatakan kepada ‘Aisyah, “Semoga Allah memberikan balasan kepadamu berupa kebaikan. Demi Allah, tidak pernah sama sekali terjadi sesuatu padamu kecuali Allah jadikan jalan keluar bagimu dari permasalahan itu, dan Allah jadikan barakah di dalamnya bagi seluruh kaum muslimin.”
Aisyah sangat memperhatikan sesuatu yang menjadikan Rasulullah SAW ridha. Dia menjaga agar jangan sampai beliau menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan darinya. Karena itu, salah satunya, dia senantiasa mengenakan pakaian yang bagus dan selalu berhias untuk Rasulullah SAW.

UJIAN DALAM HIKMAH
==============
Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan dipenuhi pahala mereka dengan tiada hitungannya – karena amat banyaknya.” (QS.Az-Zumar: 10)

Allah Ta’ala berfirman:”Dan sesungguhnya Kami hendak menguji kepadamu semua, sehingga Kami dapat mengetahui siapa di antara engkau semua itu yang benar-benar berjihad dan siapa pula orang-orang yang bersabar.” (QS. Muhammad: 31)

Satu peristiwa menyatakan kesucian dirinya. penting tercatat dalam kehidupan ‘Aisyah tidak ada cobaan terberat kecuali fitnah. Berikut kisahnya yang digambarkan dan dirangkum dari hadits ifki (satu istilah yang digunakan untuk kisah fitnah terhadap Ummul Mukminin, Sayyiditina Aisyah r.a. yang berasal dari hadits Imam Bukhori).

Sepulang dari perang Hunain pertempuran Bani Musthaliq. Seperti pada kebiasaan Rasulullah apabila dalam melakukan perjalanan (musafir), beliau selalu membawa salah satu dari isterinya. Kebetulan pada saat perjalanan kali ini, Aisyah isteri termuda Rasul yang merupakan anak dari sahabat beliau, Abu Bakar terpilih menemaninya dalam perjalanan ini. Suatu ketika pada saat perjalanan pulang menuju madinah, rombongan Rasul dan Aisyah serta para musafir lainnya melakukan peristirahatan. Selama peristirahatan, Aisyah keluar dari tempat haudaj (tempat yang biasanya diletakkan perempuan di dalamnya dan ia diikat di atas belakang unta) untuk buang hajat. Setelah selesai, Aisyah kembali ke rombongan tadi, tidak disangka ia kehilangan kalung yang dipinjam dari Asma kakaknya, kemudian ia kembali dan mencari. Saat mencari ia melihat bahwa ia telah tertinggal rombongan. Para pasukan musafir tadi mengira kalau Aisyah masih di dalam haudaj. Meskipun begitu, ia terus mencari kalung tersebut. Setelah menemukannya, ia kembali ke tempat peristirahatan dan berharap para pasukan musafir tadi mengetahui bahwa Aisyah tertinggal dan kembali untuk menjemputnya. Selang beberapa lama, Aisyah tertidur. Kemudian datanglah seorang askar (tentara penyapu ranjau) yang berjalan di belakang pasukan tadi. Orang tersebut bernama Safwan bin Muattal. Ia menemukan Aisyah dan mengenalinya. Ia lalu mendekati Aisyah dan membawanya dengan unta untuk diduduki Aisyah, sedangkan Safwan berjalan kaki menarik unta hingga sampai dikawasan perhentian berikutnya. Dan Aisyah kembali berkumpul dengan para musafir yang sudah lama menunggunya.

Setelah tiba di madinah Aisyah terkena demam. Dari kejadian ini kaum munafikin yang ditokohi oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul menghembuskan berita bohong tentang ‘Aisyah r.a. Berita itu terus menyebar dan mengguncangkan kaum muslimin, termasuk rumah tangga Rasulullah. Sedang ‘Aisyah sendiri tidak mendengarnya karena dia langsung jatuh sakit selama sebulan setelah kepulangan itu, tersebar kabar fitnah tentang perselingkuhan Aisyah dengan Safwan. Kabar ini sampai ke telinga Rasulullah. Sikap Rasulullah pun telah berubah terhadap Aisyah, ia merasa heran karena selama sakitnya tidak menemukan sentuhan kelembutan Rasulullah sebagaimana biasa bila dia sakit, hanya sekedar menyapa dan menanyakan kabar Aisyah saja saat ia sakit.

Akhirnya berita bohong itu pun sampai kepada ‘Aisyah melalui Ummu Misthah. ‘Aisyah pun menangis sejadi-jadinya dan meminta izin kepada untuk tinggal sementara waktu dengan orang tuanya setelah sembuh dari sakitnya. Ia kemudian meminta kepada Rasulullah untuk kembali kepada orang tuanya dan Rasul pun mengizinkan. Sementara itu, wahyu yang memutuskan masalah ini belum juga turun, sehingga Rasulullah mengumpulkan para sahabat termasuk ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk meminta pendapat mereka atas masalah ini. Dan mencoba menyelidiki dengan memanggil Abdullah bin Ubai bin Salul yaitu sebagai penyebar fitnah utama dan beberapa lainnya seperti Barirah (khadam Aisyah) untuk menanyai sifat Aisyah. Dari hasil dialog dengan beberapa sahabat, memang tidak ada kekurangan dan kejelekan dalam diri Aisyah maupun Safwan. Namun masih adanya keraguan karena lamanya ayat yang turun kepada Rasulullah tentang kesucian Aisyah.

Kemudian Rasulullah menemui ‘Aisyah di tempat orang tuanya, mengharap kejelasan dari peristiwa ini. Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah ra. : Rasulullah memulaikan kata-katanya dengan pujian kepada Allah dan ucapan syahadat, lalu bersabda, ” Wahai Aisyah, telah sampai kepadaku berita tentangmu begini-begini. Kalaulah kamu memang tidak melakukannya, niscaya Allah akan membebaskan kamu, dan jika kamu telah melakukan dosa, istighfarlah kepada Allah dan bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya seorang hamba bila dia mengakui dengan dosanya, dan bertaubat memohon ampunan kepada Allah, niscaya Allah akan mengampunkannya.”

Kemudian Aisyah menjawab, : ”Sesungguhnya demi Allah, aku memang telah mengetahui bahwa anda semua telah mendengar cerita ini telah berada di jiwa anda semua, dan anda semua mempercayainya. Kalaulah aku berkata yang aku ini tidak bersalah, Dan hanya Allah saja yang mengetahui bahwa aku tidak bersalah, anda semua tidak akan mempercayaiku. Dan jika aku mengakui, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku tidak bersalah- tentulah anda semua mempercayainya. Demi Allah, tidak ada umpama bagiku melainkan seperti perkataan ayah Nabi Yusuf. Sabar adalah lebih baik, dan Allah saja tempat aku memohon pertolongan dari pada yang mereka katakan”.

Setelah itu puncak kegalauan, dan pada saat dan tempat itu juga turunlah ayat (surat An-Nur:11-12) yang membebaskan Aisyah dari fitnah. Hingga akhirnya terjawab sudah, bahwa Aisyah memang tidak melakukan dosa apa yang telah difitnahkan kepada Aisyah., dari atas langit Allah menurunkan ayat-ayatnya yang membebaskan ‘Aisyah dari segala tuduhan yang disebarkan oleh orang-orang munafik. ‘Aisyah ra. wanita mulia yang mendapatkan dari atas langit..pembebasan Allah.
Dia juga melukiskan keadaannya pada waktu itu, ” Demi Allah, saat itu aku tahu bahwa diriku terbebas dari segala tuduhan itu dan Allah akan membebaskan aku darinya. Namun, demi Allah, aku tidak pernah menyangka Allah akan menurunkan wahyu yang dibaca dalam permasalahanku, dan aku merasa terlalu rendah untuk dibicarakan di dalam ayat yang dibaca. Aku hanya berharap, Rasulullah membebaskan diriku dari tuduhan itu.”

Allah Ta’ala berfirman : ” Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyebaran berita bohong itu baginya azab yang besar”. (QS. An-Nur : 11).

Allah Ta’ala berfirman :” Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (QS. An-Nur : 12).

Allah yang Maha Tahu berkehendak menyingkap berita bohong tersebut serta mensucikan beliau dalam Al-Qur’anul Karim dalam surat An-Nur ayat 11-23. Cobaan yang menimpa wanita yang amat utama ini merupakan pelajaran berharga bagi setiap wanita, karena tidak ada wanita di dunia ini yang bebas dari fitnah.

BELAIAN SYAHDU
===========
” Wahai jiwa yang tenang…kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridha’i-Nya. Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba Ku dan masuklah kedalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr : 27).

Seorang istri yang menyenangkan suaminya yang mulia, menggiring kegembiraan ke dalam hatinya, menghilangkan segala kepayahan dalam menjalani kehidupan dakwah untuk menyeru manusia kepada Allah. Wanita mulia ini menjalani hari-harinya bersama Rasulullah dalam suka duka hingga Menjelang hari-hari terakhir Rasulullah SAW selama sakit, Beliau meminta ijin kepada istri-istrinya untuk memilih beristirahat selama sakitnya untuk dirawat di rumah Aisyah hingga wafat. Dalam sebuah riwayat menyataka: Ketika Rasulullah SAW sakit sekembalinya dari haji Wada’ dan merasa bahwa ajalnya sudah dekat, beliau lalu berkeliling kepada istri-istrinya sebagaimana biasa. Pada saat membagi jatah giliran kepada istri-istrinya itu beliau selalu bertanya:

“Di mana saya besok? ”

“Di mana saya lusa?”

Hal ini mengisyaratkan bahwa beliau ingin segera sampai pada hari giliran Aisyah. istri Nabi yang lain pun bisa mengerti hal itu dan merelakan Nabi untuk tinggal di tempat istri yang mana yang beliau sukai selama sakit, sehingga mereka semuanya berkata: ” Ya Rasulullah, kami rela memberikan jatah giliran, kami kepada ‘Aisyah.”

Cinta dan kasih sayang Aisyah begitu besar pada suaminya, Muhammad Ibnu Abdillah sang iswah paripurna. ‘Aisyah dengan setia menjaga dan merawat beliau. Bahkan begitu besar cintanya kepada Rasulullah, sakit yang diderita Nabi itu rela ‘Aisyah tebus dengan dirinya kalau memang hal itu memungkinkan. Aisyah berkata: “Aku rela menjadikan diriku, ayahku, dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah.”

Kemesraan meliputi tatanan rumah tangganya yang menebarkan harum semerbak wangi surga. Aisyah selalu mendapat keutamaan dari Tuhan dan kekasih Tuhannya. Bahkan diakhir hayat suami tercintanya ia damai berada di pangkuan Aisyah, bersandar tenang dan syahdu diantara leher dan dadanya.
Aisyah meriwayatkan tentang detik-detik akhir wafat kekasihnya yang tertuang dalam sejarah. Wafat dalam belaian dekapan cinta Aisyah..sejuk..lembut..bak tertidur di surga. Aisyah meriwayatkan :

” ketiaka tiba hari-hariku beliau diwafatkan oleh Allah ketika sedang rebah diantara dada dan leherku kemudian beliau dimakamkan di dalam rumahku ” (HR. Bukhari).

Diriwayatkan dari Sayyidatina Aisyah RA yang berkata, “ALLAH wafatkan Nabi SAW di mana kepala beliau SAW berada di antara paru-paruku dan bagian atas dadaku hingga air liu beliau bercampur dengan air liurku.”( HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan disaat para malaikat datang menemani di pembaringan Rasulullah secara bershaf-shaf. Disaat Rasulullah derada di dalam pangkuan Aisyah dan bersandar didada Aisyah, dan Rasulullah berdoa sebagai perpisahan dengan istri tercintanya menuju dzat yang Maha cinta diatas cinta yaitu menuju Allah dzat sang pemilik cinta. Bagaimana doa Rasulullah diakhir hayatnya saat-saat terakhir bersama Aisyah ?

Diriwayatkan dari Aisyah r.a bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw sebelum beliau wafat, ketika itu beliau bersandar kedada Aisyah. Dan Aisyah mendengar ucapan : ” Ya Allah, berikan rahmat kepdaku dan pertemukan aku dengan kekasihku ” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Aisyah melukiskan detik-detik terakhir dari kehidupan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut : ” Rasulullah SAW meninggal dunia di rumahku, pada hari giliranku, dan beliau bersandar di dadaku. Sesaat sebelum beliau wafat, ‘Abdur Rahman bin Abu Bakar (saudaraku) datang menemuiku sambil membawa siwak, kemudian Rasulullah SAW melihat siwak tersebut, sehingga aku mengira bahwa beliau menginginkannya. Siwak itu pun aku minta, lalu kukunyah (supaya halus), kukebutkan, dan kubereskan sebaik-baiknya sehingga siap dipakai. Selanjutnya, siwak itu kuberikan kepada Nabi SAW. Beliau pun bersiwak dengan sebaik-baiknya, sehingga belum pernah aku melihat cara ber¬siwak beliau sebaik itu. Setelah itu beliau bermaksud memberi¬kannya kembali kepadaku, namun tangan beliau lemas. Aku pun mendo’akan beliau dengan do’a yang biasa diucapkan Jibril untuk beliau dan yang selalu beliau baca bila beliau sedang sakit. (Alloohumma robban naasi… dst.) Akan tetapi, saat itu beliau tidak membaca do’a tersebut, melainkan beliau mengarahkan pandangannya ke atas, lalu membaca do’a:

‘Arrofiiqol a’laa (Ya Allah, kumpulkanlah aku di surga bersama mereka yang derajatnya paling tinggi: para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin). Segala puji bagi Allah yang telah menyatukan air liurku dengan air liur beliau pada penghabisan hari beliau di dunia.

Sungguh akhir hayat yang sangat indah, indah dalam keridhaan dan pangkuan istri tercintanya, dan indah dalam bertemu Tuhannya. Bahkan apresiasi tertinggi pada Tuhannya beliau Rasulullah di makamkan di kediaman Aisyah istri tercintanya yang kini menjadi Masjid Nabawi yang diabadikan dunia.
Bagi Aisyah, menetapnya Rasulullah SAW selama sakit dikamarnya merupakan kehormatan yang sangat besar karena dia dapat merawat beliau hingga akhir hayat. Rasulullah SAW dikuburkan dikamar Aisyah, tepat ditempat beliau meninggal. Sementara itu, dalam tidurnya, Aisyah melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya. Ketika dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, Abu Bakar berkata, “Jika yang engkau lihat itu benar, maka dirumahmu akan dikuburkan tiga orang yang paling mulia dimuka bumi.” Ketika Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar berkata, “Beliau adalah orang yang paling mulia diantara ketiga bulanmu.” Ternyata Abu Bakar dan Umar dikubur dirumah Aisyah.
Dalam riwayat lain Aisyah berkata,
“Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah SAW wafat dipangkuanku.”

Itulah rangkaian kisah diakhir perjumpaan dua kekasih yang saling mencinta karena Allah, dan berpisah dibawah naungan payung ridha Allah. Betapa besar kebanggaan Sayyidah Aisyah Radhiallau Anha menjadi istri Rasulullah dan betapa besar kekaguman Ummul mukminin Aisyah kepada Rasulullah, hingga beliau mengatakan Kaana khuluquhul Qur’an.

HIDUP DALAM KESYUHUDAN
=================
Allah Ta’ala juga berfirman: “Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda-gurau dan permainan belaka dan sesungguhnya perumahan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, jikalau mereka mengetahui.” (al-Ankabut: 64)

Sepeninggal Rasulullah, ‘Aisyah banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan ta’lim. baik kepada kaum laki-laki maupun wanita (di rumahnya) dan banyak berperan serta dalam mengukir sejarah Islam sampai wafatnya, Aisyah juga senantiasa dihadapkan pada cobaan yang sangat berat, namun dia menghadapinya dengan hati yang sabar, penuh kerelaan terhadap taqdir Allah SWT dan selalu berdiam diri didalam rumah semata-mata untuk taat kepada Allah SWT. Rumah Aisyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala penjuru untuk menimba ilmu atau untuk berziarah kemakam Nabi SAW. Ketika istri-istri Nabi SAW hendak mengutus Ustman menghadap khalifah Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan Nabi SAW yang merupakan bagian mereka, Aisyah justru berkata;
“Bukankah Rasulullah SAW telah berkata, ‘Kami para nabi tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah.”

‘Aisyah adalah seorang istri yang paling berjiwa mulia, dermawan, dan sabar dalam mengarungi kehidupan bersama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam yang serba kekurangan, hingga pernah dalam jangka waktu yang lama di dapurnya tidak terlihat adanya api untuk pemanggangan roti atau keperluan masak lainnya. Selama itu mereka hanya makan kurma dan minum air putih.

Ketika kaum muslim telah menguasai berbagai pelosok negeri dan kekayaan datang melimpah, ‘Aisyah pernah diberi uang seratus ribu dirham. Uang itu langsung ia bagikan kepada orang-orang hingga tak tersisa sekeping pun di tangannya, padahal pada waktu itu di rumahnya tidak ada apa-apa dan saat itu ia sedang berpuasa. Salah seorang pelayannya berkata: “Alangkah baiknya kalau engkau membeli sekerat daging meski¬pun satu dirham saja untuk berbuka puasa!” Ia menjawab: “Seandainya engkau katakan hal itu dari tadi, niscaya aku melakukannya.”

Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga didalam rumahnya tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun. Dimana sabda Rasul,”Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma.” (HR. Ahmad ) Dia adalah wanita yang tidak disengsarakan oleh kemis¬kinan dan tidak dilalaikan oleh kekayaan. Ia selalu menjaga kemuliaan dirinya, sehingga dunia dalam pandangannya adalah rendah nilainya. Datang dan perginya dunia tidaklah dihiraukannya.

GURU BESAR TIADA DUANYA
==================
“Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari engkau semua dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat.” (al-Mujadalah: 11).

Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari Al Qur`an dan Sunnah. Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau. Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah SAW jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ia memperoleh ilmu langsung dari Rasulullah SAW. Aisyah termasuk wanita yang banyak menghapalkan hadits-hadits Nabi SAW, sehingga para ahli hadits menempatkan dia pada urutan kelima dari para penghapal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan Ibnu Abbas.

Dalam kehidupan berumah tangga, ‘Aisyah ra. merupakan guru bagi setiap wanita di dunia sepanjang masa. Ia adalah sebaik-baik istri dalam bersikap ramah kepada suami, menghibur hatinya, dan menghilangkan derita suami yang berasal dari luar rumah, baik yang disebabkan karena pahitnya kehidupan maupun karena rintangan dan hambatan yarig ditemui ketika menjalankan tugas agama.
Dia adalah sebaik-baik istri yang amat memperhatikan dan memanfaatkan pertemuan langsung dengan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, sehingga dia menguasai berbagai ilmu dan memiliki kefasihan berbicara yang menjadikan dirinya sebagai guru para shahabat dan sebagai rujukan untuk memahami Hadits, sunnah, dan fiqih. Dalam penetapan hukum pun, Aisyah ra. kerap langsung menemui wanita-wanita yang melanggar syariat Islam. Didalam Thabaqat, Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah binti Abdirrahman menemui Ummul Mukminin Aisyah r.a. Ketika itu Hafshah mengenakan kerudung tipis. Secepat kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang tebal.

Berikut beberapa testimoni ulama besar salaf tentang perbendaharaan dan kapastitas ilmu Sayyidatina Aisyah ra. :

=>Kesaksian Hisyam bin ‘Urwah meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata: “Sungguh aku telah banyak belajar dari ‘Aisyah ra. Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih pandai daripada ‘Aisyah tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan kepadanya, hari-hari yang digunakan di tanah Arab, nasab, hukum, serta pengobatan.” Aku bertanya kepadanya: ‘Wahai bibi, dari manakah engkau mengetahui ilmu pengobatan?’ ‘Aisyah ra. menjawab: ”Aku sakit, lalu aku diobati dengan sesuatu; ada orang lain sakit juga diobati dengan sesuatu; dan aku juga mendengar orang banyak, sebagian mereka mengobati sebagian yang lain, sehingga aku mengetahui dan meng¬hafalnya”.
=>Keasksian A’masy, dari Abu Dhuha dari Masruq, Abud Dhuha berkata: “Kami pernah bertanya kepada Masruq: ‘Apakah ‘Aisyah ra. juga menguasai ilmu faraidh?’ Dia menjawab: ‘Demi Allah, aku pernah melihat para shahabat Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam yang senior biasa bertanya kepada ‘Aisyah ra. tentang faraidh”.
=>Kesaksian ‘Urwah bin Zubeir (anak laki-laki dari saudara perempuan Sayyidatina Aisyah RA) yang diriwayatkan puteranya (Hisyam), “Aku tak pernah lihat seseorang yang lebih pintar dalam ilmu fiqh, kedokteran dan syair selain Aisyah ra.”
Kesaksian Az-Zuhri:”Seandainya ilmu semua wanita disatu¬kan, lalu dibandingkan dengan ilmu ‘Aisyah ra., tentulah ilmu ‘Aisyah lebih utama daripada ilmu mereka.”1
=>Kesaksian az Zuhri, “Andai diperbandingkan perbendaharaan ilmu Aisyah ra. dengan perbendaharaan ilmu para istri Nabi SAW (yang masing-masing juga hebat ilmu) dan seluruh wanita niscayalah perbendaharaan ilmu Aisyah RA jauh lebih tinggi.”
Kesaksian Masruq (diriwayatkan dari Abu Darba’) tentang ilmu faraidh, “Aku lihat para syaikh dari kalangan Sahabat Nabi SAW bertanya ke Aisyah ra. tentang ilmu faraidh (ilmu waris).”
=>Kesaksian Zubeir bin ‘Awwam (diriwayatkan dari anaknya -‘Urwah), “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pintar tentang al Qur’an, perkara-perkara yang difardlukan, perkara halal dan haram, syair cerita ‘Arab dan nasab -silsilah keturunan- selain Aisyah ra..”

Beberapa testimoni ulama besar kalangan Sahabat dan Tabi’in di atas bukti kredibilitas dan keunggulan perbendaharaan ilmu Sayyidatina Aisyah r.a. Pengabdiannya kepada basyarakat, dan usahanya untuk mengembangkan pengetahuan orang tentang sunnah dan fiqh, tidak ada tandingannya di dalam catatan sejarah Islam. Jika orang menemukan persoalan mengenai sunnah dan fiqh yang sukar untuk dipecahkan, soal itu akhirnya dibawa kepada Aisyah, dan kata kata Aisyah menjadi keputusan terakhir. Selain Ali, Abdullah ibn Abbas dengan Abdullah ibn Umar, Aisyah juga termasuk kelompok intelektual di tahun-tahun pertama Islam. Begitulah kita punya Ibunda. Beliau jawara ilmu. Aisyah merupakan buah karya sang suami: Nabi Muhammad SAW.

Aisyah ra. wanita mulia yang dijamin menjadi penghuni surga karena kebaikan dan ketauladanannya. Pasti Allah telah menjemputnya dengan indah pula diakhir-akhir hayatnya, sebagaimana suami tercintanya. Malaikat akan mencabut sisa nafasnya dengan diiringi salam penuh kelembutan dan perlahan. Sehingga damai dan tenang dalam tidur yang panjangnya.
Tuhan akan menebarkan angin rahmat-Nya membelai dengan kedamaian dan penuh kasih sayang. Menaburkan bunga-bunga surga yang harum semerbak dengan aroma misik dan kestury, mengirimkan bidadari-bidadari tuk menuntunnya kepintu surga firdaus-Nya dan Tuhan akan menyapanya dengan lembut :

” Wahai jiwa yang tenang…kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridha’i-Nya. Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba Ku dan masuklah kedalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr : 27).

Tiba waktunya ‘Aisyah r.a. kembali kepada Rabb-Nya. Wanita mulia ini wafat pada usia 66 th, malam Selasa bertepatan taggal 17 bulan Ramadhan Ramadhan,th ke-58 H(13 Juli, 678 Masehi)., dan dikuburkan di Baqi.

Para generasi sepeninggal ‘Aisyah selalu mengkaji Ilmunya dan meneliti detail kehidupannya sejak usia 6 tahun, keharumannya namanya tak pernah sirna dari goresan tinta para penuntut ilmu. dengan harapan bisa mengambil hikmah dan ibrah dari model tarbiyyah (pendidikan) yang telah membentuk pribadi beliau menjadi figur tunggal yang belum ada duanya sejak empat belas abad silam.

Wallahuta’ala a’lamu Bishshawab..
=====================
”Wahai Ummul Mukminin Aisyah ra, Selamat jalan..
Syirah hayatmu mewangi, Mengembuni wanita-wanita di bumi.

Selamat jalan wahai As-siddiqah Aisyah ra..
Semoga keindahan pribadimu
Tertanam di dalam pribadi Sahabat2ku..

Amin…………………..

7 responses to “~.THE ENDLESS LOVE.~

    • endlees love….

      iya jadi satu artikel mb……jadi banyak mengupas dari sisi Aisyah Ra…..dan apay ang bisa di petik dari beliau

      kira2 begitu…..

  1. di dalam artikel ini ada dua tulisan yang sepertinya menjadi satu karena mungkin kesalaham teknis. yakni yang pertama adalah tulisan yang menceritakan tentang Aisyah ra. dan yang kedua adalah tulisan yang berjudul “sekali lagi tentang hadist ahad” yang setahu saya ditulis oleh akhina Titok Priastomo syabab Jogja yang dulu pernah jadi ketua gema pembeban daerah jogja. mungkin bisa di cek lagi ke asal tulisan ini mbak Ningrum. wallahu’alam.

  2. di dalam artikel ini ada dua tulisan yang sepertinya menjadi satu karena mungkin kesalaham teknis. yakni yang pertama adalah tulisan yang menceritakan tentang Aisyah ra. dan yang kedua adalah tulisan yang berjudul “sekali lagi tentang hadist ahad” yang setahu saya ditulis oleh akhina Titok Priastomo syabab Jogja yang dulu pernah jadi ketua gema pembebasan daerah jogja. mungkin bisa di cek lagi ke asal tulisan ini mbak Ningrum. wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s